Untuk pasar baru, misalnya Amerika Serikat dan Eropa, batu bara sulit masuk karena terkait regulasi lingkungan yang ketat. Yang paling longgar untuk urusan lingkungan hanyalah India dan Tiongkok.
Makanya saat ini ekspor Kaltim masih menuju dua negara tersebut. “Pemerintah kita masih lemah, yang kualitas rendah aja dijual. Karena, yang penting ekspor,” ungkapnya.
Dia mengatakan, sejauh ini dampak ikutan kepada mikro ekonomi pendamping batu bara tak sepenuhnya mengkhawatirkan. Meski diakuinya bahwa pengusaha pasti menahan jumlah produksinya, dalam volume yang tidak banyak.
“Ke depan, solusi kebijakan DMO (domestic market obligation) atau penyerapan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri cukup memberi harapan,” tuturnya.
(*/ctr/ndu/k15/jpnn/pojoksatu)




