UN Diganti AN, Disdikbud Kota Sukabumi Sosialisasi ke Operator SD-SMP

  • Whatsapp

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Sukabumi menggelar Sosialisasi Asesmen Nasional (AN) kepada seluruh operator SD dan SMP se-Kota Sukabumi. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Karena sedang di masa pandemi, acara kita laksanakan dengan dua sesi, sesi pertama pesertanya operator SD yang dilaksanakan Jumat (24/7/2021), dan untuk jenjang SMP dilaksanakan Sabtu (25/7/2021),” terang Sekretaris Disdikbud Kota Sukabumi Yemmy Yohanni kepada Radar Sukabumi, Senin (26/7/2021).
Yemmy menambahkan, sosialisasi tersebut dinilai penting diketahui oleh setiap satuan pendidikan mengingat tahun ini  Ujian Nasional (UN) ditiadakan, dan diganti dengan Asesmen Nasional (AN).

Bacaan Lainnya

Adapun kata Yemmy, pengadaan bentuk asesmen ini ialah program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud-RI). Salah satunya melihat kondisi masa pandemi saat ini yang jarang tatap muka. Sehingga diperlukan bentuk asesmen untuk pendalaman materi.

Yemmy menjelaskan, AN adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang dasar dan menengah.

Dikatakannya, AN berbasis komputer yang dilaksanakan oleh semua jenjang mulai  SD, SMP, SMA dan madrasah.

Pemanfaatan teknologi dalam asesmen juga efisien dan efektif untuk proses distribusi instrumen, pengelolaan data dan pengolahan hasil.

AN tidak hanya mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, tetapi juga mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan. Adapun hasil AN akan menjadi cermin untuk melakukan refleksi dan mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia.

“Ada tiga tujuan utama dari asesmen nasional, yaitu mendorong guru mengembangkan kompetensi kognitif yang mendasar sekaligus karakter murid secara utuh. Menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. Memberi gambaran tentang karakteristik esensial sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut,” tuturnya.

Semua satuan pendidikan melaksanakan AN tanpa mempertimbangkan status akreditasi, dan bagi sekolah yang tidak
memiliki infrastruktur teknologi informasi  dan komunikasi yang dipersyaratkan sebagai pelaksanaannya dengan cara menumpang ke sekolah lain yang memiliki infrastruktur teknologi informasi  dan komunikasi yang memadai.

“Dinas Pendidikan dan Kantor Kementrian Agama (Kemenah) wajib mengkoordinasikan skema menumpang asesmen nasional,” ulasnya.

Adapun Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan dua moda asesmen yaitu berbasis daring dan semi daring.

“Moda daring  semua proses dilakukan secara daring yang membutuhkan koneksi internet yang memadai dan stabil selama pelaksanaan AN,” ucap Yemmy.

Dengan  demikian, satuan pendidikan tidak melakukan proses sinkronisasi dan unggah hasil. Sementara bagi sekolah yang tidak memiliki koneksi internet yang tidak memadai  dapat memilih moda semi daring.

“Satuan pendidikan perlu melakukan sinkronisasi atau mengunduh soal kepada komputer server tiga hari sebelum pelaksanaan AN, setelah selesai satuan pendidikan bertugas untuk memastikan semua hasil dari semua sample sudah lengkap dan mengunggah hasilnya ke pusat,” jelasnya.

Sementara itu dalam pelaksanaan AN, responden murid akan dipilih secara acak dengan jumlah maksimal 30 orang murid SD/MI dan 45 murid SMP/MTs.

Ada tiga instrumen yang dinilai yaitu  Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang terdiri dari literasi membaca, dan numerasi. Literasi membaca sendiri  adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah, mengembangkan kapasitas individu, sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Sementara numerasi merupakan kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagi jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. AKM diberikan dalam bentuk soal yang akan dikerjakan oleh murid.

“Ada lima bentuk soal dalam AKM, yaitu pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan uraian,” terangnya.

Penialaian kedua yaitu Survei Karakter (SK). Survei karakter dikerjakan oleh murid untuk mendapatkan informasi hasil belajar sosial-emosional. Survei ini akan mengukur enam aspek Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Ketiga, Survei Lingkungan Belajar (SLB). Survei ini dikerjakan oleh murid, guru dan kepala sekolah untuk mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar mengajar di sekolah. SLB mengumpulkan informasi tentang kualitas proses pembelajaran dan iklim yang menunjang pembelajaran.

Adapun waktu pengerjaan asesmen, setiap peserta asesmen nasional akan mengerjakan dua jenis tes serta dua survei, yaitu tes literasi membaca, tes numerasi, survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

Tes dan survei tersebut akan dikerjakan selama dua hari dengan rincian untuk jenjang SD/MI dan paket A/ULA di hari pertama tes literasi (75 menit) dan survei karakter (20 menit). Hari kedua, tes numerasi (75 menit) dan survei lingkungan belajar (20 menit).

Kemudian untuk jenjang SMP/MTS dan paket B/WUSTHA, serta jenjang SMA/SMK/MA dan Paket C ULYA di hari pertama tes literasi (90 menit), dan survei karakter (30 menit). Hari kedua adalah tes numerasi (90 menit), dan survei lingkungan belajar (30 menit).

AN tidak memerlukan persiapan khusus, seperti bimbel yang berpotensi membuat siswa menjadi stres.

“Saya berharap sekolah di Kota Sukabumi sudah siap melaksanakan asesmen nasional ini,” pungkasnya. (wdy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *