SUKABUMI — Pantai Karang Pamulang yang dahulu menjadi ikon wisata dan lokasi favorit peselancar pemula kini terpuruk. Hamparan pasir yang dulu ramai wisatawan kini dipenuhi semak belukar, sementara bangunan proyek Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) yang mangkrak berdiri bisu di bibir pantai.
Pengelola hotel di kawasan tersebut, Yan Bastian, mengaku prihatin. “Pantai Karang Pamulang dulu terkenal sebagai lokasi latihan surfing. Banyak wisatawan asing datang karena ombaknya cocok untuk pemula. Sekarang kondisinya berubah drastis,” ujarnya.
Menurut Yan, pembangunan pemecah ombak dalam proyek PLPR sejak 2015 memicu sedimentasi yang menggeser garis pantai dan mengurangi daya tarik wisata. Ia menilai kajian lingkungan saat itu tidak matang, meski pihaknya sudah menyampaikan keberatan kepada pemerintah pusat.
Kini, kawasan pantai kehilangan fungsi utamanya sebagai destinasi wisata keluarga. Area yang dulu ramai bermain anak-anak berubah kumuh dan berbahaya. Yan mengingatkan wisatawan agar tidak berenang melewati breakwater karena arus balik cukup kuat.
Dampak paling terasa dirasakan pelaku usaha perhotelan. Tingkat hunian hotel turun lebih dari 50 persen sejak pantai kehilangan pesonanya. “Dulu hotel-hotel di sini jadi favorit wisatawan karena langsung menghadap laut. Sekarang kondisinya berbeda dan kami jelas dirugikan,” ungkap Yan.





