Penyelundupan Benur Senilai Rp130 juta Asal Tegalbuleud Digagalkan Polisi

PERS RELEASE : Kapolres Sukabumi AKBP Dedy Darmawansyah Nawirputra didampingi Wakapolres Niko Nurullah Adi Putra dalam pers release di Dermaga Palabuhanratu, Minggu (17/10).

SUKABUMI — Tidak ada kapok-kapoknya adalah kata yang cocok untuk para tersangka penyelundupan benur. Kali ini, Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Sukabumi, menggagalkan ekspor benur ilegal asal Tegalbuleud di wilayah hukum Polres Sukabumi, Minggu (17/10).

Dalam kasus ini, Polres Sukabumi berhasil mengamankan dua orang pelaku, yakni berinisial H (34) sebagai sopir dan A (21) bertindak sebagai staf pengepul.

Bacaan Lainnya

Selain itu, dari tangan pelaku polisi juga menyita barang bukti ribuan benih benih lobster yang diikat dalam kantong plastik bening.

“Dua orang pelaku beserta barang bukti kami amankan pada Sabtu (16/10) sekitar pukul, di Desa Jagamukti Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi,” ujar Kapolres Sukabumi AKBP Dedy Darmawansyah Nawirputra didampingi Wakapolres Niko Nurullah Adi Putra dalam pers release di Dermaga Palabuhanratu, Minggu (17/10).    

Ia menjelaskan, pelaku mengirim benih bening lobster jenis pasir dan mutiara dengan ukuran karapas kurang dari 8 cm dan berat kurang dari 200 gram, yang sebelumnya dikumpulkan atau didapatkan dari nelayan daerah Tegalbuleud oleh pengepul (MR.X).

“Pelaku ini melakukan aktivitas menjual benih bening lobster dalam 1 Minggu 7 kali dengan jumlah rata – rata 1000 ekor per hari dan dijual dengan cara dijemput atau diantarkan dengan jumlah sebanyak 7.000 ekor dalam seminggu. Kerugian yang dialami oleh negara kurang lebih sebesar Rp. 130 juta,” paparnya.

Adapun barang bukti yang disita dari tangan tersangka antara lain, 4.050 ekor benih bening lobster jenis pasir, 250 ekor benih bening lobster jenis mutiara.

“Selain itu, satu unit kendaraan roda- 4 merk jenis pickup warna hitam, dan dua buah handphone,” jelas Dedy.

Lanjut Dedy, modus pelaku mencari keuntungan dan dijual keluar negeri, untuk tujuannya sendiri pihaknya masih melakukan pendalaman. Namun yang pasti dari hasil pemeriksaan awal bukan untuk budidaya melainkan dijual ke pengepul. “Mereka melakukan aktivitas itu sudah berjalan 2 tahun,” imbuhnya.

Ia memaparkan, pelaku sudah melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 12 Tahun 2020. Dalam Permen itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi melarang ekspor bening lobster, menyusul terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Perubahan Permen KP No.12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.)

“Palaku terancam UU perikanan dengan hukuman 8 tahun kurungan penjara,” tandasnya. (ris)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.