Muktamar NU ke-34 di Lampung, Mobil Kijang Doyok Wagub Jabar Curi Perhatian Orang

Deretan mobil Kijang Doyok parkir di halaman Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. (FOTO: RIMADANI EKA MARETA/RADAR LAMPUNG)

RADAR SUKABUMI – Ada yang menarik dari Muktamar NU ke-34 bertempat di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL). Yakni rombongan mobil-mobil tua bermerek Toyota Kijang KF20. Selain usianya, warna-warni mobil menambah kesan unik dan manis.

Dilansir dari laporan pewarta Radar Lampung (Radar Sukabumi Group) Rimadani Eka Mareta, mobil-mobil jadul tersebut milik muktamirin dan muhibbin atau simpatisasi Muktamar NU-34. Tepatnya dari Jawa Barat.

Muktamar yang digelar sejak Rabu (22/12) lalu, juga dihadiri rombongan dari Jabar. Adalah Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum yang memimpin rombongan tersebut. Sekaligus memimpin rombongan mobil jadul Kijang yang mejeng di parkiran pelataran UIN RIL.

Sepuluh mobil memantik perhatian publik. Mobil tersebut dikenal dengan sebutan Kiko atau Kijang Kotak. Ada juga yang menyebutnya Kijang Doyok. Wagub Jabar Uu memang terkenal doyan mengoleksi mobil tua. Termasuk mobil keluaran 1983 itu. Mobil itu warisan dari kakeknya.

”Baru sekali ini saya melihat ada mobil Kijang Kotak sebanyak ini,” kata Tama, 23, warga asal Bandar Lampung. Dia kagum melihat pelaksanaan Muktamar Ke-34 NU yang dipenuhi orang dari berbagai kalangan.

Lokasi lain yang dipadati pengunjung adalah pameran manuskrip sejarah Islam di UIN RIL. Manuskrip itu berisi informasi perjalanan NU dan Islam di Indonesia. Ada sekitar 60 manuskrip yang dipamerkan. Sebagian manuskrip boleh disentuh langsung oleh pengunjung. Khusus yang usianya di atas 100 tahun, yang dipamerkan hanya berupa salinan.

Koordinator Nahdlatul Turots Usman Hasan Al Akhyari mengatakan, seluruh manuskrip itu dikumpulkan satu per satu dari berbagai daerah di Indonesia. Bentuknya macam-macam. Ada yang ditulis langsung oleh Syaikhona Kholil Bangkalan, yakni Rotib Syaikhona Kholil Al Bangkalani yang berisi satu halaman. Ada pula naskah Lamiyah Ibnul Wardi yang merupakan koleksi Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Kholil Bangkalan. Ditulis Imam Zainuddin Abi Hafsh Umar Ibn Al Wardi. Syaikhona Kholil Bangkalan menyalin langsung teks tersebut pada 1295 Hijriah (1875 Masehi).

”Di sini ada yang asli, namun ada yang memang sudah kami salin. Ini ada ilmu tajwid dari Kiai Sholeh Darat. Usianya sekitar 138 tahun,” ungkapnya. Hampir seluruh manuskrip tersebut ditulis berdasar huruf Arab gundul. Di dalamnya terdapat informasi mengenai ilmu Islam, baik terkait dengan fikih, tafsir, zikir, maupun doa di Alquran.

Moh. Ichwan D.S., koordinator Pameran Manuskrip dan Jejak Sejarah Ulama Nusantara, menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya menambah manuskrip yang belum dapat dikumpulkan dari berbagai daerah lainnya. Termasuk manuskrip dengan aksara Jawa. Namun, perjuangan mengumpulkan manuskrip tidak mudah. Agar menjadi satu kitab saja, bisa dibutuhkan waktu bertahun-tahun.

Ichwan mengatakan, dengan ditampilkannya sejarah itu, masyarakat diharapkan mengetahui sejarah Islam, terutama NU, dalam menyebarkan agama. Dia berharap seluruh manuskrip itu bisa dikumpulkan di satu tempat yang lebih strategis. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah mengaksesnya. ”Ke depan, harapan kami bisa berkeliling lagi bawa ini semua, tapi kami juga sudah berkoordinasi dengan ketua Perpustakaan PBNU untuk bisa diakomodasi,” tandasnya. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan