SUKABUMI — Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, berhasil menyulap ruas Jalan Raya Ciaul Pasir, Kilometer 3,6, menjadi destinasi wisata budaya yang memikat perhatian publik. Kawasan sepanjang 200 meter di depan Kantor Desa kini tampil etnik dengan pagar bambu, kain sarung membalut pohon, dan lampu hias yang menyala indah di malam hari.
Transformasi ini mengubah citra desa pemekaran yang sebelumnya minim fasilitas publik menjadi magnet wisata baru. Pengunjung datang untuk berfoto, bersepeda, hingga menikmati suasana kampung yang khas. “Awalnya hanya untuk memperindah desa, tapi akhirnya kami adopsi konsep Lembur Pakuan yang viral. Desa ini kaya bambu, jadi kami manfaatkan potensi itu,” ujar Kepala Desa Sukajaya, Deden Gunaefi, Senin (30/9).
Desa Sukajaya dikenal sebagai penghasil bambu terbaik di Sukabumi, yang biasa digunakan untuk membuat besek mochi. Kini, bambu juga dimanfaatkan untuk mempercantik desa. “Kalau bisa, bukan hanya 200 meter, tapi sampai satu kilometer,” tambah Deden.
Pembangunan dilakukan secara gotong royong, melibatkan perangkat desa, karang taruna, dan sembilan ketua RW. “Semua warga berperan. Ini sesuai motto desa kami: Tikukur, Ti Urang, Ku Urang, Keur Urang,” katanya.
Keindahan desa ini cepat viral di media sosial. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan konten kreator dari Banten dan Cianjur ikut menginap. Stand UMKM pun mulai bermunculan, menjual gorengan, cilok, kopi, dan hasil kebun warga. “Ekonomi jadi berputar. Ini bukti desa bisa berkembang dari kreativitas warganya,” jelas Deden.
Menariknya, pembangunan ini tidak mengandalkan dana besar. Semua dilakukan secara swadaya, dengan dukungan pengusaha lokal. “Total 2.000 batang bambu terkumpul tanpa biaya puluhan juta. Ini lahir dari semangat gotong royong,” ucap Deden.





