Kota Sukabumi Alami Inflasi 0, 43 Persen

Pasar Kota Sukabumi
Sejumlah pedagang disalah satu Pasar Kota Sukabumi, Kamis (25/8).

SUKABUMI – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sukabumi, menyebutkan selama Juli 2022 mengalami inflasi sebesar 0,43 persen. Angka itu, lebih kecil jika dibandingkan pada Juni lalu yang jumlahnya mencapai 0,58 persen.

“Ya, Juli kemarin Kota Sukabumi mengalami inflasi sebesar 0,43 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,17,” ungkap Kepala Bidang Perekonomian, dan Sumber Daya Alam Bappeda Kota Sukabumi, Yanto Arisdiyanto kepada wartawan, Kamis (25/8).

Bacaan Lainnya

Lanjut Yanto, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi penyebab inflasi pada Juli karena adanya kenaikan indeks harga beberapa kelompok pengeluaran.

Diantaranya, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,71 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,91 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,31 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,32 persen, kelompok transportasi sebesar 0,17 persen, kelompok pendidikan sebesar 1,68 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,19 persen. “Adapun, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainya sebesar 0,53 persen,” ujarnya.

Selain itu, perkembangan harga Bahan Pokok Penting (Bapokting) pada Juli tahun ini relatif mengalami kenaikan harga. Terutama pada komoditas cabai seperti, cabai merah lokal naik dari Rp80 ribu menjadi Rp90 ribu per kg, cabai hijau besar dari Rp42 ribu menjadi Rp45 ribu per kg, cabai rawit merah yang dijual di bulan Juli 2022 mencapai Rp80 ribu per kg, dan cabai hijau rawit hijau dikisaran Rp54 ribu per kilogram.

“Berdasarkan data dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi, beberapa Bapokting alami kenaikan harga,” ujarnya.

Disisi lain, sambung Yanto, terdapat beberapa kelompok pengeluaran yang juga mengalami deflasi. Misalnya saja, kelompok kesehatan sebesar 1,90 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,25 persen.

“Namun ada juga satu kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan indeks yakni, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya,” ucapnya.

Sebab itu, Bappemda bersama dinas dan lembaga terkait akan terus melakukan analisa terhadap sumber atau potensi tekanan, serta melakukan inventarisasi data, informasi perkembangan harga barang dan jasa secara umum. “Kami juga akan terus menganalisis stabilitas permasalahan perekonomian daerah yang dapat mengganggu stabilitas harga dan keterjangkaun barang dan jasa,” tutupnya. (bam)

Pos terkait