SUKABUMI — Sepuluh hari pascabencana alam yang melanda Kecamatan Nyalindung pada 28 Desember 2025, warga Kampung Cihanjuang, Desa Sukamaju, masih terisolasi dan menghadapi krisis pangan yang mengkhawatirkan.
Lahan pertanian seluas 10 hektare yang menjadi sumber utama penghidupan warga kini rusak parah. Sawah yang sebelumnya ditanami padi dan dijadwalkan panen empat bulan mendatang, kini tertimbun material longsor berupa batu, pasir, dan batang pohon.
“Harusnya panen empat bulan lagi. Tapi sekarang sawah tertutup batu dan kayu. Sulit diperbaiki sendiri,” ujar Cece, Ketua RT 03/07 Kampung Cihanjuang, Rabu (7/1).
Dari total lahan yang terdampak, hanya sekitar 40 persen yang diperkirakan masih bisa diselamatkan. Namun, proses rehabilitasi memerlukan biaya besar yang tak sanggup ditanggung warga yang kini kehilangan mata pencaharian.
Kondisi diperparah dengan akses jalan yang lumpuh total. Jalur alternatif melalui Cijoho hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saat cuaca cerah. Saat hujan, jalur berubah menjadi lumpur yang mustahil ditembus.
Lebih tragis lagi, Cihanjuang merupakan wilayah blank spot tanpa sinyal telekomunikasi. Warga kesulitan mengabarkan kondisi darurat atau meminta bantuan.
“Dari dulu memang tidak ada sinyal di sini. Kami seperti terjebak dalam ruang hampa,” tambah Cece.





