Otomatis, kata Roy lagi, dengan kejadian meninggalnya mantan Anggota DPR RI dari partai berlambang Ka’bah itu maka Pilkada Kabupaten Sukabumi bakal kembali ke format semula. Yakni, pertarungan antara Marwan Hamami dan Adjo Sardjono yang notabene keduanya adalah petahana dan akan saling berebut kursi F1.
Akan tetapi, hal tersebut dapat berubah lagi jika ada figur baru yang diusung agar poros ketiga tetap ada.
“Kemudian kalau kita baca dari arah koalisi partai politik, secara garis besar memang saya melihat formatnya kembali ke posisi awal. Kecuali jika ada figur baru yang muncul diusung, misalnya dari partai Gerindra atau dari PPP itu sendiri yang memunculkan kadernya sendiri,” ujarnya.
Namun kans untuk terciptanya poros ketiga terkecuali mendiang Reni Marlinawati dinilai hanya akan mendatangkan resiko yang sangat besar untuk partai politik di poros tersebut.
“Sedari awal yang telah dilakukan partai politik untuk membentuk poros ketiga itu mereka dihadapkan oleh resiko yang sangat besar. Karena saya katakan tadi bahwa pertarungan Pilkada Kabupaten Sukabumi tahun 2020 ini sesungguhnya milik dua petahanaEmha dan Adjo,” paparnya.
Roy pun mengulas lebih tajam soal poros ketiga. Berdasarkan teori politik, kata dia lagi, poros ini biasanya tercipta karena ada yang menciptakan.
Namun teori ini dari perspektif asumsi atau spekulasi, sehingga benar tidaknya harus dibuktikan secara fakta dan data. “Jadi dalam teori politik, ketika poros ketiga tercipta, sejatinya poros ketiga itu diciptakan.
Pertanyaannya sekarang siapa yang menciptakan poros ketiga?
Tentunya yang memiliki cukup tenaga. Cuma ini kan asumsi, mesti dibuktikan secara fakta,” ungkap Roy.
“Saya tidak ingin mengatakan bahwa kematian almarhumah Yunda Reni Marlinawati disambut baik oleh pihak oposisi.
Tapi memang saya melihat kembali ke awal posisinya. Tinggal kemudian manuver-manuver partai politik. Jadi lagi-lagi penentuan konstelasi pilkada ini di detik-detik injury time,” tuntasnya. (upi/izo/t)






