Perjuangan seorang guru untuk memberikan pendidikan bagi anak bangsa, patut diacungi jempol. Berbagai cara dilakukan oleh mereka, agar anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak khususnya bagi yang tergolong ekonomi ke bawah.
Kisah inspiratif kali ini datang dari seorang wanita muda bertatus guru honorer di Kota Sukabumi. Ia menciptakan rumah belajar untuk anak-anak dari kalangan tidak mampu. Hebatnya lagi, rumah belajar disediakan secara gratis tanpa ada pungutan biaya apapun.
WIDI FITRIA, Sukabumi
Adalah Eriyana Putri Nuramdani (21), sehari-harinya Eriyana atau yang akrab dipanggil Iput mengajar sebagai guru kelas di salah satu SD di Kota Sukabumi.
Berstatus sebagai guru honorer, dirinya harus rela menerima upah minimum Kota Sukabumi. Meski begitu, tekadnya untuk menjadi seorang pendidik dan hobinya yang senang mengajar anak-anak, tidak membuatnya putus asa.
Dengan kemampuannya sebagai tenaga pendidik, justru Iput merasa miris melihat potret pendidikan dismana anak-anak dari golongan ekonomi bawah tidak bisa menikmati bangku sekolah.
Melihat kondisi itu, Iput terpanggil untuk memberi les tambahan bagi anak-anak yang tidak mampu dengan menciptakan rumah belajar di rumahnya yaitu di Jalan Pemuda I Gang Hikmat 1 RT/RW 02/03 Kelurahan/Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi.
Rumah belajar ini sudah berjalan selama tiga tahun, yaitu mulai dibuka sejak 2015. Dengan peralatan sederhana dan ruang yang sempit sekitar 2×3 meter, anak-anak tidak mampu dari lingkungan sekitar rumahnya memadati ruangan sempit tersebut untuk belajar bersama.
“Awalnya itu, karena rasa iba aja sih, jadi ada anak di lingkungan sini bolak-balik cari LKS katanya untuk belajar,”ucap Iput kepada Radar Sukabumi, Senin (8/10).
Karena kebetulan keponakannya satu kelas dengan mereka, makanya dikasih pinjam LKS.
“Pas taya-tanya katanya ia enggak mampu beli, jadi buat belajar sehari-hari paling minjam ke teman-temannya,”tuturnya.
Hati Iput seakan tergerak untuk membantu mereka.
“Saya tawarin buat les, dia tertarik akhirnya saya ajarin dia mulai dari membaca, menulis sampai bantuin dia bikin PR,” ujar Iput yang juga masih berstatus sebagai mahasiswi di Univeritas Terbuka (UT) di Bogor jurusan keguruan itu.
Les tambahan pun mulai dilakukan setiap Senin-Jumat, setelah pulang sekolah. Berawal dari satu murid, kini Iput mengajar belasan hingga puluhan murid, bahkan ia pernah mengajar hingga 125 murid setiap hari.
“Awalnya satu anak, ke sini-sini tetangga tahu dan tertarik buat les tambahan di sini terus nambah jadi 25, 65 bahkan tahun kemarin itu pernah 125 anak ikut les di sini itu sampai saya kewalahan mengajarnya sampai harus dibikin berapa kali ngajar gantian,”bebernya.
Membludaknya murid yang belajar di rumahnya itu, lantaran tidak hanya dari warga Citamiang saja. Tetapi ada juga yang datang dari luar seperti ada yang dari Baros, Nanggeleng bahkan ada yang dari Kabupaten Sukabumi misalnya Kadudampit.
“Mereka taunya dari mulut ke mulut sih, teruskan murid-murid yang di sekolah saya sudah ada yang kelas II, tetapi belum bisa baca atau gak mampu, saya ajakin les di rumah saya,” imbuhnya.
Dikatakannya, memberikan pendidikan tambahan di rumahnya itu dilakukan secara ikhlas dan tanpa biaya atau pungutan apapun.
Karena Iput ingin betul-betul memberikan pendidikan kepada generasi muda, khususnya kepada anak-anak yang tidak mampu agar tetap mendapat pendidikan layak.
Tidak sendiri, ia dibantu ibu dan sepupunya untuk mengajar. Kegiatan pun dimulai pukul 14.00-16.00 WIB, jika penuh biasanya anak-anak belajar secara bergantian. Selain memberikan les tambahan setiap bada Magrib hingga Isya, Iput juga mengajar mengaji bagi anak-anak di lingkungan rumahnya.
Rencananya ke depan, ia ingin membuka rumah bakat anak-anak di lingkungan sekitar.
“Kedepan target mau ada rumah bakat, karena di sini, juga ada saudara yang punya bakat nari sama menggambar jadi anak-anak punya bakat yang bisa disalurkan selain pelajaran calistung dan mengaji,”ucapnya.
(*)



