Bagi masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa, pasti akrab sekali dengan tempe. Selain bisa dihidangkan menjadi teman nasi, tempe juga bisa dijadikan camilan. Namun apa jadinya bila tempe ini dibuat dengan menambahkan bahan pengawet? Tentu sangat membahayakan bagi tubuh. Berbeda halnya dengan Tempe Al Fatih yang berada di Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Tempe Al Fatih aman untuk dikonsumsi, lantaran tidak menggunakan bahan pengawet.
DINNA AGUSTINA, Sukabumi
Hampir semua orang menyukai tempe, bahkan merujuk sejarah, tempe langsung menjadi makanan populer di Eropa sejak pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Belanda pada masa pendudukan atas Indonesia di 1895.
Ini membuktikan bahwa bisnis tempe, cukup menggiurkan lantaran konsumennya tinggi. Tempe bisa menjadi peluang usaha.
Selain rasanya enak, tempe juga dikenal memiliki bergizi tinggi. Proteinnya yang tinggi, membuat makanan yang satu ini cocok untuk menu diet.
Dengan segudang manfaatnya, tempe tanpa bahan pengawet cukup sulit ditemukan. Nah bagi Anda yang ingin mengonsumsi tempe yang tidak menggunakan bahan pengawet, tinggal datang saja ke Jalan Karadenan Kampung Ciawi RT 16/06, Desa Cimahi, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.
Di lokasi ini, ada seorang pengrajin tempe yang sudah terkenal akan kualitas produknya. Ya, namanya Tempe Al Fatih.
Diproduksi oleh Turah Ratiu, tempe ini terbilang laris di pasaran. Dibantu anak-anaknya, Turah meracik bahan-bahan berkualitas untuk tempenya.
“Tempe Al Fatih tidak pakai pengawet, jadi bisa tahan dua minggu bila disimpan di freezer dan satu minggu di luar ruangan,”ucap Pemilik Tempe Al Fatih, Turah Ratiu saat berbincang dengan Radar Sukabumi di rumah produksinya, Senin (1/10).
Sambil mengingat-ngingat masa lalu, pria paruh baya ini menuturkan kisahnya dalam merintis usaha.
“Tempe Al Fatih ini artinya pembuka rezeki,”tuturnya.
Nama tersebut ternyata diwariskan dari kerabat Turah yang kini sudah tidak memproduksi tempe.
“Kerabat bapak dulu memberikan nama Al Fatih ini, karena artinya pembuka rezeki akhirnya nama ini dipakai oleh bapak untuk industri rumahan tempe,”terangnya.
Nama yang sama juga Turah berikan kepada cucunya.
“Bapak merintis usaha pembuatan tempe sudah lima tahun berjalan di Kampung Ciawi ini,”imbuhnya.
Sebenarnya sejak bujangan Turah sudah belajar membuat tempe, namun karena pernah berpindah tempat jadi lima tahun terakhir ini dirinya kembali fokus pada usahanya.
“Saya tau dari mulai sakitnya tempe seperti apa, bagusnya tempe seperti apa, saya tahu susah senangnya usaha ini,”terangnya.
Dalam sehari, ia bisa menghabiskan satu kwintal kacang kedelai untuk dijadikan 400 bungkus tempe dengan berbagai ukuran.
Tempe-tempenya dijual ke masyarakat sekitar, warung-warung dan para pedagang tempe yang ada di sekitar Sukabumi.
“Kalau ukuran kecil saya jual Rp3000 per biji, Rp4 ribu ukuran sedang dan Rp8 ribu ukuran besar,”bebernya.
Ia memilih kacang kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tempe.
“Biasa beli di toko atau kerabat,”ulasnya.
Menurutnya, kacang kedelai lokal sebetulnya bisa digunakan untuk membuat tempe. Hanya saja, di Indonesia sendiri stok kacang kedelai lokal masih kekurangan sedangkan di negeri ini dibutuhkan 2 juta ton per tahun.
Meski alat yang digunakan masih tergolong manual, namun rasa Tempe Al Fatih sangat enak dan sehat. Limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tempe ia manfaatkan untuk pakan ternak sapi milik warga sekitar.
“Tetapi sekarang tidak ada peternaknya, untuk sementara limbah dari tempe dikubur,”imbuhnya.
Saat ini, dirinya belum bisa mempekerjakan orang lain karena alat-alat yang digunakan masih manual, sehingga masih bisa dilakukannya bersama anak-anaknya.
“Untuk meringankan biaya produksi, tahapan pengemasan kami memakai plastik karena lebih mudah, biayanya pun ringan dibanding daun pisang yang harganya bisa mencapai Rp100 sampai dengan Rp80 ribu per kwintal,”ujarnya.
Rumah produksi Tempe Al Fatih sudah mempunyai pelanggan tetap.
“Alhamdulillah banyak pelanggan tetap seperti ke warung-warung, rumah makan, Salagombong, Mangkalaya,
Gunungguruh dan sekitarnya,”ulasnya lagi.
Adapun omzet yang didapatkan per bulan sekitar Rp3.300.000.
“Itu kita dapatkan dalam 22 hari kerja, karena ada liburnya delapan hari. Mudah-mudahan usaha ini bisa berjalan dengan lancar, produksinya lebih meningkat dan kedepannya bisa memakai alat-alat stainless steel,”tandasnya.
(*/d)



