PALABUHANRATU – Rekaman CCTV yang memperlihatkan aksi pencurian di salah satu kios sembako dan sayuran di Pasar Semi Modern Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (6/11) dini hari sekitar pukul 02.59 WIB dan menimbulkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Dalam video berdurasi 32 detik dan 1 menit 52 detik, pelaku terlihat membobol kios dengan leluasa. Dian, pemilik toko yang menjadi korban, mengaku baru mengetahui kejadian tersebut pada pagi harinya.
“Kerugiannya mungkin di bawah tiga puluh jutaan. Ini bukan yang pertama, sudah sering kehilangan barang seperti kopi, bawang merah, dan sembako lainnya,” ujar Dian.
Dian meyakini pelaku yang terekam CCTV adalah orang yang sama dengan kejadian sebelumnya. Ia telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian dan berharap ada tindak lanjut.
“Wajahnya jelas di CCTV. Saya sudah lapor ke polisi,” tegasnya.
Pedagang lain, Ivan, juga mengaku kerap kehilangan barang dagangan. Menurutnya, pelaku membuka paksa tutup toko dan mengambil barang dalam jumlah kecil namun sering.
“Kadang cuma 5–10 kg, tapi hampir semua kios di blok kami pernah kehilangan,” keluh Ivan.
Ivan menyoroti lemahnya sistem keamanan pasar meski pedagang rutin membayar iuran retribusi, termasuk untuk keamanan. Ia mengaku sudah beberapa kali menyampaikan keluhan ke Perwapas dan UPTD, namun belum mendapat respons serius.
“Kami bayar iuran, tapi keamanan toko tidak terjamin,” ujarnya.
Ketua Perwapas, Karyadi, membenarkan adanya laporan pencurian dan menyebut kasus tersebut telah ditindaklanjuti bersama UPTD Pasar dan perusahaan pengelola keamanan.
“Pemilik toko sudah melapor ke polisi. Kami menunggu hasil pemeriksaan,” kata Karyadi.
Ia menjelaskan bahwa sesuai Peraturan Daerah Nomor 16, pengelolaan kebersihan dan keamanan pasar diserahkan kepada pihak ketiga. Perwapas hanya menjalankan fungsi pengawasan dan pembinaan.
“Iuran keamanan dikelola oleh perusahaan pengelola, bukan kami,” jelasnya.
Karyadi menambahkan, dari sekitar 900 pedagang yang terdata, kini hanya sekitar 60 persen yang aktif berjualan akibat dampak ekonomi dan persaingan dengan penjualan online.(ndi/d)






