JAKARTA — Hingga Sabtu (18/1), belum diketahui pasti penyebab kematian purnawirawan Angkatan Darat yang pernah berdinas di Badan Intelijen Negara (BIN) itu.
Jenazah Brigjen TNI (Purn) Hendra Hendrawan Ostevan pertama kali ditemukan oleh nelayan pada Jumat (10/1) sekitar pukul 16.00 WIB. Pensiunan TNI AD dengan pangkat terakhir jenderal bintang satu itu mengapung di Perairan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut).
Menurut ahli psikologi forensik Reza Indragiri, ada kemungkinan Brigjen Hendra Hendrawan bunuh diri. ”Kemungkinan itu ada,” kata dia kepada JawaPos.com. Meski aparat kepolisian menemukan sejumlah kartu identitas pada jenazah korban, Reza menyatakan bahwa hal itu tidak lantas bisa menjadi dasar penyebab kematian Hendra bukan karena bunuh diri. Dia menyebut, seseorang bisa memutuskan untuk bunuh diri hanya dalam hitungan menit.
Merujuk beberapa peristiwa bunuh diri, Reza menyampaikan bahwa ada beberapa tahap sampai korban bunuh diri meninggal dunia. Yakni Idea, Plan, Attempt, dan Death. ”Dalam sekian banyak peristiwa bunuh diri, sejak Idea hingga Attempt hanya butuh beberapa puluh menit. Bahkan ada yang cuma sepuluh menit,” ungkap dia. Menurut Reza, waktu dalam mata rantai Idea, Plan, Attempt, dan Death tampak pula pada Brigjen Hendra.
”Indikasinya adalah pemilihan cara mengemudi kendaraan dan membawa sejumlah kartu identitas. Dia seakan sebelumnya punya niat untuk mengakhiri hidup,” imbuhnya.
Sebelumnya, Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ressa Fiardy Marasabessy menyampaikan bahwa rekaman Closed Circuit Television (CCTV) menunjukkan korban berkendara seorang diri. ”Dari beberapa CCTV yang kami dapatkan, terlihat korban nyetir sendiri,” kata dia pada Kamis (16/1). Pihak keluarga juga membenarkan hal itu, korban berkendara ke Tangerang untuk mengurus tanah.




