JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) beberapa hari terakhir terus melemah. Berdasarkan Kurs referensi atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) per 24 April 2018 berada pada posisi Rp 13.900 per USD. Namun, pagi ini Rupiah terapresiasi 12 poin menjadi Rp 13.888 per USD.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar mengatakan, pelemahan Rupiah terjadi karena tekanan global. Selain itu,
sejumlah mata uang lain juga ikut terdepresiasi terhadap keperkasaan Dolar.
Dia mencontohkan, mata uang Baht Thailand yang melemah sekitar 1 persen, Rupee India yang melemah sekitar 2 persen, dan Ringgit Malaysia yang melemah 2,8 persen. Adapun mata uang Lira Turki melemah 3,3 persen.
“Arah Rupiah ke depan tentu juga bagaimana persepsi pelaku ekonomi termasuk pelaku di pasar keuangan menyikapi indikator di Amerika Serikat dan respon yang ditempuh Amerika Serikat,” ujarnya di Gedung BI, Semarang, kemarin (25/4).
Dia melanjutkan, membaiknya perekonomian Indonesia tercermin dari pertumbuhan ekonomi, inflasi dan angka pengangguran yang terus mengalami perbaikan. Indikator tersebut memberi pandangan jika kebijakan moneter Negeri Paman Sam itu akan semakin agresif.
Pelemahan Rupiah dinilai tidak separah mata uang negara lain. Hal itu lantaran saat ini struktur perekonomian dalam negeri masih cukup baik. “Kondisi ini tidak lepas dari capaian kita menjaga stabilitas dan struktur ekonomi yang lebih baik, sehingga mampu menahan Rupiah,” tuturnya.





