JAKARTA – Pemerintah terus mendorong industri di dalam negeri untuk memproduksi kendaraan ramah lingkungan, termasuk kendaraan listrik. Harapannya, sebesar 20 persen kendaraan ramah lingkungan diproduksi di Indonesia pada 2025.
“Sebagai bagian dari roadmap Kementerian Perindustrian, pada tahun 2025 ditargetkan 20 persen dari kendaraan yang diproduksi di Indonesia adalah kendaraan ramah lingkungan (LCEV) termasuk kendaraan listrik,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat membuka pameran otomotif Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, kemarin (19/4).
Airlangga mengatakan pemerintah telah menyiapkan insentif yang dapat dimanfaatkan produsen antara lain tax allowance, Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP), kemudahan impor Tujuan Ekspor (KITE), kemudahan importasi menggunakan skema CKD-IK.
Selain itu, insentif akan diberikan dalam bentuk potongan pajak penghasilan kena pajak untuk perusahaan yang melakukan kegiatan vokasi untuk meningkatkan kemampuan SDM, serta pemberian super lax deduction untuk industri yang melakukan kegiatan R&D.
“Untuk mendorong pengembangan kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang kami mulai dari program Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) dan akan dilanjutkan dengan kendaraan berbasis energi listrik,” jelasnya.
Saat ini, industri otomotif Indonesia tumbuh cukup pesat dengan kontribusi yang sangat signifikan pada perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari angka produksi kendaraan bermotor roda empat yang meningkat dari 1,177 juta unit pada tahun 2016 menjadi 1,216 juta unit pada tahun 2017.


