SUKABUMI – Hektaran lahan pertanian tanaman ubi Jepang di Kampung Lemah Duhur, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, mengalami serangan hama lanas yang mengakibatkan penurunan produksi panen.
Selain serangan hama, faktor cuaca pada musim kemarau panjang tahun ini, menyebabkan para petani di daerah tersebut, menghadapi kesulitan dalam mempertahankan hasil panen yang maksimal.
Salah seorang petani muda, Mukhlis Rahayu, yang dikenal juga dengan nama Akay Trisula (35) kepada Radar Sukabumi mengatakan, bahwa hasil panen ubi Jepang di daerah tersebut mengalami penurunan drastis. Biasanya, setiap hektare tanaman ubi Jepang dapat menghasilkan sekitar 20 sampai 25 ton.
“Namun saat ini produksi hanya mencapai 5 sampai 8 ton per hektare. Kalau jumlah total tanaman ubi di kampung ini, ada sekitar 3 hektare,” kata Akay kepada Radar Sukabumi pada Senin (30/10).
Hama yang utama menyerang tanaman ubi Jepang di kawasan lahan pertanian ubi tersebut, adalah hama lanas. Selain itu, terdapat pula serangan hama ulat dan hama sejenis belalang.
Serangan hama ini pertama kali terlihat pada daun tanaman. “Namun jika tidak segera ditangani, hama tersebut dapat menyebabkan pembusukan pada buah ubi Jepang,” bebernya.
Akay Trisula mengungkapkan bahwa ia sering menggunakan racikan obat organik untuk mengatasi serangan hama tersebut. Dengan menggunakan cara ini, ia berhasil mengurangi dampak serangan hama sehingga tidak menimbulkan gagal panen yang lebih parah.
“Namun sayangnya, penurunan produksi tanaman ubi Jepang juga dipengaruhi oleh kondisi musim kemarau yang menyebabkan tanaman tidak mendapatkan pasokan air yang cukup untuk pertumbuhannya,” tandasnya.
Ia dan para petani di Kampung Lemah Duhur berharap dapat segera menemukan solusi untuk mengatasi serangan hama lanas dan permasalahan cuaca yang tidak mendukung ini.
Mereka berkomitmen untuk terus mencari cara agar produksi tanaman ubi Jepang dapat ditingkatkan secara maksimal. “Iya, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah ini,” pungkasnya. (Den)






