SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Peneliti tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk melaksanakan Tsunami Early Warning System. Widjo menjelaskan, yang dia maksud adalah uji coba sistem peringatan dini terhadap tsunami.
“Hal ini sebelumnya telah dilaksanakan di daerah lain seperti di Bantul. Itu Pemerintah Kabupaten Bantul bersama BPBD Kabupaten Bantul sudah lama melaksanakannya. Uji coba ini didasari oleh hasil penelitian potensi tsunami dan gempa megathrust sebagai bentuk kesiap siagaan warga masyarakatnya. Nah saya sarankan Pemerintah Kabupaten Sukabumi bisa menduplikasi atau melakukan hal serupa di Bantul,” kata Widjo kepada Radarsukabumi.com lewat sambungan telpon, Kamis (1/10/2020).
Saran Widjo ini bukan tanpa sebab dan alasan. Bahwa terbaru Institut Teknologi Bandung (ITB) merilis terkait potensi terjadinya gempa megathrust dan tsunami di selatan pulau Jawa Barat dan Jawa Timur.
Titik yang dimaksud di Jawa Barat sendiri adalah Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Bahkan ketinggian tsunami pada penelitian tersebut mencapai 20 meter.
Widjo pun mengungkapkan bahwa penelitian ITB ini merujuk pada penelitiannya pada 2018 lalu. Hal ini pun dikonfirmasi lagi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Ya ada kesamaan penelitian ITB dengan penelitian saya sebelumnya. Artinya secara akademis dan scientific memang demikian, BMKG pun dalam berita tak membantahnya. Untuk itu, saran saya ini dalam rangka kesiapan dan kewaspadaan diri untuk warga Sukabumi dalam menghadapi potensi tsunami berdasarkan kajian-kajian yang ada,” papar Widjo.
Lebih lanjut, Widjo pun mengatakan sistem yang dilakukan di Bantul bernama Bantul Integrated Sirine System (BISS). Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulan di tanggal 26. Ada alasan khusus mengapa di tanggal tersebut. “Yakni dalam rangka memperingati tsunami di Aceh yang terjadi di tanggal 26 Desember,” sebut dia.
Pada pelaksanaannya, kata Widjo lagi, memasang sejumlah sirine di 27 titik kawasan pesisir. Sirine akan berbunyi sebagai bentuk upaya simulasi terhadap evakuasi penyelamatan warga dari tsunami.
“Ini masih berlangsung sampai sekarang. Jadi dengan adanya penelitian dari ITB tersebut, semoga Pemerintah Kabupaten Sukabumi bisa menerapkan apa yang telah Pemkab Bantul lakukan lewat BISS. Karena soal prediksi terjadinya gempa dan tsunami itu memang belum ada formulanya, kapan terjadinya? Bukan kapan-kapan, tapi kapan saja bisa,” tuntasnya. (izo/rs)





