KOTA SUKABUMISUKABUMI

Proyek “Pamungkas” Dago Gagal

KOTA SUKABUMI – Pupus sudah harapan dan mimpi masyarakat memiliki pedestrian Jalan Ir Djuanda atau lebih dikenal Dago yang lebih representatif. Lantaran, satu-satunya kegiatan penataan kawasan perkotaan yang tersisa itu kembali gagal terserap.

Informasi yang diperoleh Radar Sukabumi, kegiatan pembangunan pedestrian Jalan Ir Djuanda tersebut bersumber dari bantuan Provinsi Jawa Barat dengan nilai tiga miliar rupiah.

Namun sayang sungguh sayang, setelah sebelumnya kegiatan dengan sumber yang sama yakni penataan Lapang Merdeka dan Alun-alun gagal, proyek pamungkas tesebut ikut gagal setelah adanya salah satu peserta lelang yang melayangkan sanggah banding.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Sukabumi sekaligus Pengguna Anggaran (PA) kegiatan pembangunan pedestrian Jalan Ir Djuanda, Abdul Rachman mengaku telah menerima sanggah banding tersebut. Maka secara langsung, kegiatan tidak bisa dilaksanakan.

“Betul, sanggah banding yang disampaikan oleh salah satu penyedia itu kami terima, sehinga secara langsung kegiatan tidak bisa dilaksanakan,” terang Abdul kepada Radar Sukabumi, kamis (31/10).

Abdul menyebut, salah satu pertimbangan diterimanya sanggah banding tersebut berkaitan waktu pelaksanaan yang secara otomatis terpangkas. Sehingga, dikhawatirkan jika tetap dilaksanakan bakal berdampak pada kegiatan.

“Pertimbangannya, salah satunya waktu yang terpangkas karena proses sanggah banding. Karena memang, seharusnya jika tidak ada sanggah banding kegiatan sudah dilaksanakan karena proses tender sudah menghasilkan pemenang,” bebernya.

Kendati demikian, Dinas Perhubungan Kota Sukabumi bakal berupaya tetap mewujudkan pembangunan pedestrian Jalan Ir Djuanda pada tahun depan. Rencananya, kegiatan tersebut bakal dialokasikan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Sukabumi 2020.

“Tentunya, kami tetap upayakan. Karena penataan kawasan perkotaan, khususnya di Jalan Ir Djuanda merupakan komitmen Kota Sukabumi. Semoga saja, tahun depan dilancarkan,” tutup Abdul.

Sementara itu, Hermawan salah satu warga Kota Sukabumi cukup menyayangkan atas tertundanya mimpi masyarakat untuk memiliki kawasan yang representatif. Kendati begitu, dirinya percaya apa yang dilakukan oleh Pemrintah Kota Sukabumi merupakan upaya yang baik.

“Secara pribadi sih memang cukup menyayangkan, karena kalau dilihat darah lain kawasan Alun-alun dan lainya itu bisa menjadi kebanggaan tersendiri, bahkan bisa menjadi destinasi wisata di kawasan perkotaan,” pungkasnya. (upi/e)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *