Pertumbuhan Ekonomi: Apa, Bagaimana dan Forecast Indonesia 2020

  • Whatsapp

Oleh :Muhamad Ammar Muhtadi
Mahasiswa Program Studi Manajemen
Universitas Nusa Putra

Pertumbuhan ekonomi sering kali kita dengar istilahnya saat menyaksikan tayangan tentang perekonomian Indonesia, dan disebut-sebut sebagai hal yang sangat penting. Pertumbuhan ekonomi suatu negara memang berkaitan erat dengan kesejahteraan rakyatnya, sehingga menjadi tolak ukur apakah negara tersebut berada dalam keadaan ekonomi yang baik atau tidak.

Bacaan Lainnya

Pertumbuhan ekonomi adalah keadaan ekonomi suatu negara selama periode tertentu yang mana lebih baik atau meningkat dari periode sebelumnya berdasarkan beberapa indikator. Indikator tersebut adalah kenaikan pendapatan nasional dan pendapatan per-kapita, jumlah tenaga kerja yang lebih besar dari pengangguran, serta berkurangnya tingkat kemiskinan.

Jika kondisi dari indikator-indikator tersebut menurun dibbanding periode sebelumnya, maka negara tersebut tidak bisa dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi namun justru mengalami kemunduran ekonomi.

Semua hal dan indikator yang bisa membuat suatu negara mengalami peningkatan atau penurunan ekonomi tergantung dari peran rakyat dan pemerintahnya terhadap negara yang dimana suatu negara akan maju dan berkembang dengan adanya satu kesatuan atau kerjasama antara rakyat dan pemerintah khususnya dalam pertumbuhan ekonomi negara.

Ekonomi dapat bertumbuh dengan beberapa ketentuan-ketentuan tertentu, yang menjadi faktor utama ekonomi bisa bertumbuh dilihat dari sumber daya manusia, lalu dengan pengembangan teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dengan inovasi-inovasi yang dibuat menggunakan teknologi tersebut.

Setelah itu peran pasar dalam menentukan penawaran dan permintaan juga perdagangan yang menjadi pengaruh besar terhadap kondisi ekonomi bertumbuh atau tidaknya berlandaskan dengan produktivitas kerjanya karena segala hal yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi bukanlah hal yang instan tetapi adanya kerja keras untuk dapat mencapai pertumbuhan tersebut.

Peningkatan produksi atau dari peningkatan dalam proporsi Produk Domestic Bruto (PDB) juga tidak lepas dari pengaruh ekonomi dapat bertumbuh, dan dari semua ketentuan yang menjadi faktor bagaimana ekonomi dapat bertumbuh tidaklah mudah karena suatu negara harus bisa menyesuaikan keadaannya baik itu dari sumber daya manusia yang ada dan juga dengan ketentuan-ketentuan yang menjadi faktor dapat bertumbuhnya negara tersebut.

Jejak pertumbuhan ekonomi yang dialami Indonesia dari tahun ke tahun pertama dilihat dari tren pertumbuhan ekonomi 2013, ekonomi Indonesia tumbuh melambat jadi 5% dari sebelumnya yang mencapai 5,56%.

Tahun 2019 lembaga dunia seperti World Bank, dan IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5%, dan hal itu benar membuat proyeksi di ekonomi Indonesia tumbuh melambat dibandingkan tahun 2018.

Dan kalau di cermati lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II lebih rendah disbanding dengan kuartal I.

Fenomena ini terjadi baik di tahun 2014 maupun di tahun 2019. Ketika ekonomi dunia tumbuh 2,5% menjadi 2,84% pada 2012-2014, ekonomi Indonesia tumbuh melambat dari 6,03% menjadi 5%.

Lebih parah lagi ekonomi Indonesia tumbuh makin melambat jadi 4,88% di tahun berikutnya dan pada saat itu juga ekonomi dunia tumbuh tipis menjadi 2,85%.

Ada kemiripan lain antara Indonesia tahun dengan lima tahun lalu. Dari sisi transaksi berjalan, Indonesia mencatatkan deficit sebesar US$27,5 miliar atau setara denga -3,1% terhadap PDB di tahun 2014.

Angka defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tersebut jauh lebih dalam ketimbang kuartal I-2019 yang hanya US$ 7 miliar (2,6% PDB). Bahkan juga lebih dalam disbanding CAD kuartal II-2018 yang sebesar US$ 7,9 miliar (3,01% PDB).

Neraca dagang Indonesa juga mengalami defisit baik di tahun ini maupun lima tahun lalu. Untuk periode Januari-September 2019, defisit neraca dagang mencapai US$ 1,95 miliar. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2014, neraca dagang juga mencatatkan defisit walau lebih rendah yaitu US$ 1,67 miliar.

Dilihat dari bagaimana petumbuhan ekonomi Indonesia sesuai data-data yang telah diperhitungkan, maka dikatakan terjadinya perlambatan dari pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun dan dibutuhkan banyak perubahan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi agar lebih baik dan sesuai harapan.

Sektor dari yang dahulu dan saat ini yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat dari tahun ke tahun setelah adanya persentase di sepanjang tahun 2018 tertahan di level 5,17 persen di angka pertumbuhan ekonominya, tetapi hal tersebut masih bisa dikatakan ada kenaikan dibandingkan dengan persentase sepanjang tahun 2017 yang hanya sebesar 5,07 persen.

Melihat dari perbandingan tersebut tidak lepas dari sektor yang masih terus menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu dari Konsumsi Rumah Tangga yang dimana dari 5,17 persen pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga menyumbang 2,74 persen atau bisa dikatakan separuh di antaranya.

Selain itu sektor yang berpengaruh dan juga mampu menjadi penopang perekonomian nasional yaitu sektor Industri dengan mencatatkan pertumbuhan 4,25 persen serta memberikan kontribusi terhadap PDB 2018.

Dan semua sektor dari terdahulu sampai saat ini yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tergantung dilihat lagi dari perbandingan-perbandingan nya tahun ke tahun, semua sektor yang ada pastinya bertujuan pada satu tujuan yaitu untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi hanya sektor-sektor tertentu saja yang menjadi faktor utama untuk tetap menjaga pertumbuhan Indonesia agar tidak jauh atau tertinggal daripada negara lain yang sama-sama mempunyai keinginan dalam memajukan negaranya khususnya dalam pertumbuhan ekonomi.

Dilihat dari wabah corona yang sudah menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia, maka dari segi perekonomian nasional bisa diprediksi lebih rendah dari periode-periode sebelumnya dan khususnya di Indonesia dipastikan banyak dampak yang terjadi akibat dari wabah corona tersebut khususnya dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sendiri.

Dampak yang dirasakan yaitu adanya penurunan dan kerugian yang sangat besar dan berpengaruh besar terhadap keadaan ekonomi negara.

Semua sektor yang ada di negara salah satunya dari sektor industri pariwisata dan perhotelan telah mengalami kerugian mencapai US$ 1,5 miliar atau setara dengan Rp.21 triliun yang dimana hal tersebut menjadi faktor penurunan pendapatan negara dan juga potensi kerugian tersebut dihitung dari perkiraan wisatawan China yang biasanya menghabiskan US$ 1.100 dalam satu kali perjalanan ke Indonesia.

Karena hal itu juga restoran dan hotel sudah mulai merasakan dampak penurunan okupansi sehingga mengakibatkan kerugian.

Selain itu dampak dari wabah corona adanya kendala impor bahan baku dan barang modal dari China yang menjadi episentrum pandemic, dan pastinya ujung-ujung dari hal itu naiknya harga barang.

Kenaikan harga barang, ditambah penghasilan yang menurun akibat penyakit (jika tidak di-PHK) adalah kombinasi fatal pemukul daya beli, sehingga hal tersebut bisa berdampak pada merosotnya konsumsi yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan Indonesia.

Risiko juga yang didapat dari dampak virus corona terhadap pertumbuhan Indonesia yaitu adanya kenaikan equity risk premium penurunan suplai pemerintah, dan kenaikan anggaran belanja.

Sektor yang menjadi unggulan Indonesia di 2020-2025 tidak lepas dari sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan Indonsia dari tahun ke tahun, tetapi hal tersebut bukan berarti menjadi keunggulan untuk kedepannya karena sektor yang menjadi penopang bisa saja tidak berjalan sesuai dengan semestinya lagi.

Maka dari itu sektor unggulan Indonesia untuk kedepannya yaitu di 2020-2025 terhadap pertumbuhan ekonomi dengan mendorong investasi, khususnya manufaktur bernilai tambah tinggi yang menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi.

Disitu pula dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah pun memiliki 3 skenario pertumbuhan ekonomi yaitu 5,4%,5,7% dan paling optimis di 6% sehingga semua kekuatan dan sumber daya diarahkan untuk mendukung dari scenario optimistis untuk tumbuh 6%..

Dilihat dari pengaruhnya terhadap perekonomian, pemerintah mengandalkan investasi di sektor manufaktur sebagai penopang pertumbuhan karena sektor tersebut memiliki nilai tambah yang tinggi dan hilirisasi masih potensial digarap dengan mengupayakan teknologi tinggi dan investasi yang besar.

Dengan hal itu, maka terciptanya lapangan kerja baru dan perekonomian domestik bisa tumbuh lebih tinggi. Disaat yang sama, kebijakan fiskal terus didorong agar bisa menjadi stimulus. Kebijakan fiskal diarahkan agar pro investasi untuk industri manufaktur.

Selain itu dari sektor pariwisata juga akan diperbaiki untuk meningkatkan devisa yang dimana hal ini akan berujung untuk mengurangi jumlah deficit transaksi berjalan. Dan dari sisi produksi, pemerintah akan mendorong industrialisasi dengan mengembangkan inovasi dan transfer teknologi untuk menciptakan lapangan kerja baru dan bertujuan memperkuat ekonomi domestik.

Sektor yang menjadi unggulan yang pastinya dapat memberikan kontribusi besar dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonom, oleh karena itu melihat dari berbagai aspek-aspek yang ada pada sektor manufaktur bisa dikatakan untuk menjadi sektor yang unggulan di Indonesia pada tahun 2020-2025.

Pernyataan dari grafik pertumbuhan Indonesia tanpa adanya wabah corona bisa dikatakan baik dan stabil yaitu berada di angka 5% untuk pertumbuhan ekonomi nya, hal tersebut berdasarkan dilihat dari tahun ke tahun bahwa Indonesia tetap konsisten dengan angka 5%, memasuki 2020 banyak sekali ekspektasi yang ingin terealisasi untuk pertumbuhan Indonesia dengan optimis untuk melihat perbaikan harga dan lainnya yang sedang tahap pemulihan untuk perekonomian Indonesia lebih baik.

Setelah adanya wabah corona yang saat ini telah mengguncang dunia termasuk Indonesia menjadikan lunturnya ekspektasi dalam melakukan perbaikan perekonomian nya, yang ada hanya lah semakin memperburuk kondisi ekonomi Indonesia itu sendiri dan diprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 dibawah 5%.

Hal itu terbukti dari kondisi yang semakin nyata setelah penyebaran wabah corona. Sepanjang tahun 2020 pertumbuhan ekonomi akan berada di angka 4,9%.

Dilihat dari pernyataan Bank Indonesia (BI) bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke kisaran 4,2% sampai 4,6% yang diakibatkan wabah corono ini. Proyeksi itu turun jauh dari asumsi awal sebesar 5,0% sampai 5,4%.

Pada saat sebelumnya adanya pandemic wabah corona diyakini masih bisa tumbuh dengan skema V yang menandakan aka nada perbaikan. Namun, ke depan akan dikaji lagi apakah masih sama atau justru menuju U yang berarti ada perbaikan, tetapi butuh waktu yang lebih lama atau akan ke L yang menandakan stagnasi. Laju perekonomian domestik akan lebih lambat karena wabah corona yang turut menginfeksi prospek pertumbuhan ekspor dan impor.

Sebab, distirbusi dan rantai pasok barang terganggu. Dan belum lagi ketika pandemic ini membuat mobilitas masyarakat perjalanan yang diberlakukan pemerintah dan negara-negara lain dan akan turut menyeret laju ekonomi ke depan dari sisi pariwisata, dan juga tidak mungkin akan turut menekan realisasi investasi dan konsumsi yang merupakan contributor ekonomi Indonesia.

Jika dibandingkan dengan negara lainnya di kawasan Asia pertumbuhan ekonomi bisa dikatakan tidak jauh atau tertinggal dari negara-negara Asia lainnya yang sama-sama merasakan dampak dari wabah corona tersebut.

Melihat dari persentase Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi nya yang pada saat itu belum adanya wabah corona Indonesia menduduki posisi tengah di antara negara Asia lainnya dengan angka 5,2%. Wabah corona yang semakin menyebar luas ini bukan hanya merugikan dari segi kondisi kesehatan negara saja melainkan kondisi perekonomian pun ikut turun khususnya yang terjadi di kawasan Asia.

Oleh karena itu rata-rata negara yang ada di kawasan Asia yang saling membutuhkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan nya seperti hal nya impor dan ekspor yang dilakukan dan kerja sama lainnya sangat mengalami kerugian yang cukup besar dank arena hal itu terjadinya penurunan perekonomian negara yang dimana berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dan perbandingan Indonesia dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nya sama dengan posisi sebelumnya yang berada di tengah dengan angka yang berbeda karena faktor wabah tersebut dan juga negara Asia lainnya sama-sama mengalami penurunan yang mengakibatkan kerugian dan mungkin ada dari negara Asia yang terbilang mengalami penurunan ekonomi yang drastis, dan semuanya tergantung dari kesiapan suatu negara jika mengalami pandemic yang berpengaruh terhadap perekonomian negara mungkin akan tidak mengalami kerugian besar.

Efektifitas langkah-langkah pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan berdasarkan pada strategi-strategi yang dibuat yaitu dari yang Pertama dengan menyinergikan bauran kebijakan BI (moneter dan makroprudensial, termasuk kebijakan suku bunga) dengan kebijakan fiscal pemerintah berupa pelebaran deficit fiscal dari 1,7%.

Kedua pemerintah dan BI bersinergi mengoptimalkan sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi nasional, di antaranya mengembangkan kawasan manufaktur, seperti otomotif, tekstil, elektronik, dan mendorong pariwisata, juga mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong keuangan digital dan sektor maritim.

Ketiga, pemerintah melakukan transformasi ekonomi dengan memangkas izin-izin investasi dan mengembangkan infrastruktur untuk mendorong pengembangan kawasan ekonomi dan parawisata.

Keempat pemerintah dan BI meningkatkan kerja sama dengan berbagai negara, baik secara bilateral maupun regional, di antaranya melalui ASEAN, APEC, dan ASEAN Plus Three bersama Jepang, Tiongkok, dan Korea, untuk mendorong perdagangan dan investasi serta ketahanan keuangan.

Kelima, pemerintah akan memberikan insentif perpajakan dan melakukan hilirisasi sumber daya alam dan substitusi impor. Keenam, pemerintah bersama BI dan OJK mendorong ekonomi keuangan digital melalui visi sistem pembayaran Indonesia 2025 guna memperkuat stabilitas eksternal dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ketujuh, dengan meningkatkan belanja negara APBN secara produktif dan juga mengendalikan inflasi dan nilai tukar rupiah.

Pandemic corona yang telah menyebar secara cepat ke seluruh dunia sehingga bukan hanya sektor transportasi dan pariwisata saja yang terpengaruh melainkan merambat ke beberapa sektor lainnya seperti perdagangan, kesehatan dan lainnya.

Hal itu menjadikan peran pemerintah menjadi faktor utama terhadap tekanan perekonomian yang di alami akibat dari dampak pandemic corona tersebut. Sikap pemerintah yang sangat dibutuhkan untuk menanggapi pandemic corona yang pastinya harus menjadi pengaruh terhadap tekanan perekonomian yaitu pemerintah mendorong Kementerian dan Lembaga (K/L) serta Pemerintah Daerah (Pemda) untuk dapat mengakselerasi belanja terutama pada jadwal Kuartal I 2020.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat pandemic corona, serta penurunan harga-harga komoditas. Pemerintah juga melakukan re-focusing pengangguran dan meluncurkan paket Stimulus Fiskal jilid 1 dan jilid 2 yang diharapkan mendukung geraknya sektor riil.

Dan secara umum prioritas utama dari cara pemerintah menyikapi pandemic tersebut adalah dukungan untuk sektor kesehatan, penguatan jarring pengaman sosial dan penyelamatan sektor dunia usaha, juga peran dan sikap dari pemerintah harus dimaksimalkan sesuai dengan kebijakan yang ditentukan agar tidak terjadinya penurunan ekonomi yang drastis dan masih bisa tetap tertahan dengan beberapa faktor tertentu.(*)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *