Kisah ‘Robin Hood’ Tanah Abang Asal Sukabumi, Dikenal Abang Jampang, Garang Pada Kompeni

  • Whatsapp
Abang Jampang
Ilustrasi Bang Jampang (Foto :Komunitas Cinta Pejuang Indonesia)

SUKABUMI — Kisah ‘Robin Hood’ Tanah Abang Asal Sukabumi berawal dari Anak laki-laki yang dinamakan Jampang atau yang dikenal dengan sebutan abang jampang. la lahir di desa Jampang Sukabumi Selatan.Dilansir dari portal resmi Provinsi DKI Jakarta bapaknya berasal dari Banten dan ibunya berasal dari desa ]ampang. Anak laki-laki itu tinggal di rumah pamannya di Grogol Depok.

Pamannya sangat sayang kepadanya, selain keponakan, anak laki-laki itu juga yatim piatu yang memerlukan perlindungan. Sang paman membawa Jampang dari desa Jampang ke Grogol Depok. Dirumah pamannya, Jampang dibesarkan. Jampang diperlakukan sebagai anak sendiri. Agar ]ampang memiliki ilmu, bekal hidupnya, oleh pamannya ia disuruh mengaji pada seorang guru ngaji di Grogol Depok. Jampang juga disuruh belajar ilmu bela diri oleh pamannya. Kemudian Jampang dibawa ke Cianjur untuk lebih memperdalam silat dan ilmu kebatinan.

Bacaan Lainnya

Setelah mahir si Jampang kembali ke Depok dengan berjalan kaki dari Cianjur ke Bogor dan menumpang kereta dari Bogor menuju sampai ke Batavia. Melihat kepulangannya ke Depok, paman sangat senang. Jampang diberikan mandat untuk tetap mendalami ilmu agama sehingga pandai mengaji.

Beranjak dewasa, Jampang memutuskan untuk hidup sediri dan pindah ke Batavia. Dibantu oleh kerabat pamannya, ia tinggal di Kebayoran Lama. Dalam perantauannya si Jampang dia diajak berdagang di pasar Tanah Abang dan berkebun.

Jampang hidup di masa kolonial Belanda di mana para tuan tanah berkuasa, diapit oleh centeng yang menagih pajak dan terkadang menindas. Bagi yang tak mampu membayar pajak, si centeng tak segan mengambil paksa barang atau hartanya.

Melihat fakta tersebut Jampang berniat untuk menantang centeng meski tertehan oleh ingatan perkataan guru dan pamannya untuk tidak menggunakan ilmunya secara sembarang. Jampang juga memikirkan nasib mamang yang ia tumpangi hidup.

Dalam perantauannya Jampang bertemu pujaan hatinya di Kebayoran Lama dan memutuskan menikah, lalu dikaruniai seorang anak. Jampang diberi amanat oleh ayah mertuanya untuk mengelola sebidang tanah bersama istrinya dan menanaminya dengan padi, kelapa dan kacang. Hasil kerja kerasnya itu ia jual ke pasar Tanah Abang.

Saat usia anaknya menginjak 4 tahun, sang istri sakit keras dan meninggal dunia kemudian menitipkan anaknya ke mertua. Timbul niat Jampang untuk merampas kembali harta milik tuan tanah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *