Dengan kata lain, brand global di kategori ibu dan bayi adalah yang paling keras terdampak akibat boikot produk terafiliasi Israel, dibandingkan kategori lain di FMCG.
“Melihat pantauan terkini melalui sosial media, diperkirakan gerakan boikot masih akan berlanjut,” kata Narendrata.
Pada survei yang berbeda, Edisi terbaru Edelman’s 2024 Trust Barometer Special Report: Brands and Politics, yang dikeluarkan pada pertengahan Juni 2024, melaporkan hasil survei 15.000 konsumen di 15 negara, yang menunjukkan bahwa Indonesia, bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), berada di peringkat teratas dalam hal aktivitas boikot terhadap merek-merek global yang terafiliasi Israel.
“Di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, satu dari dua warganya menyatakan boikot terhadap merek-merek yang ada hubungannya dengan Israel,” papar laporan tersebut.
Survei menunjukkan, 72 persen responden di Arab Saudi memboikot merek yang mereka anggap mendukung Israel dalam genosida Israel terhadap warga sipil Palestina di Gaza. Di UEA, angka tersebut mencapai 57 persen. Merek-merek seperti Starbucks, McDonald’s, dan Coca-Cola menghadapi kemerosotan penjualan yang tajam akibat boikot ini.
Aksi boikot dari negara-negara Arab dan negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia, telah menggoyahkan banyak perusahaan multinasional yang berpusat di Barat. (*)






