CIKOLE – Sekitar 100 pelaku usaha ekonomi kreatif se-Kota Sukabumi dipertemukan di salah satu hotel ternama di Kota Sukabumi.
Perkumpulan tersebut diakomodir Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), sebuah lembaga non-kementerian yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia (RI).
Para pelaku ekonomi kreatif tersebut berdialog dan berdiskusi seraya diberi pembekalan tentang kemampuan manajerial, tata cara mengelola usaha agar berumur panjang.
Kepala Subdit Kerjasama Deputi Hubungan Antara Lembaga dan Wilayah Bekraf Yosep Payong Masa menilai Kota Sukabumi memiliki potensi besar menjadi kota untuk mengembangakan ekonomi kreatif, terutama di bidang kuliner. Yosep melihat para pelaku ekonomi kreatif tersebut akan lebih berkembang dan maju Dengan sedikit sentuhan.
Apalagi pada saat menggelar pertemuan, mayoritas pelaku ekonomi kreatif yang datang didominasi oleh para pelaku bisnis kuliner. Menurutnya dari berbagai pertanyaan dan masukan-masukan pada saat dialog berlangsung, dirinya melihat potensi ekonomi kreatif di Kota Sukabumi sangat luar biasa.
Hampir 70 persen pelaku usaha bidang kuliner. Tinggal disitu ada keterlibatan dan sentuhan-sentuhan yang difasilitasi pemerintah.
Yoseph juga akan turut membantu memfasilitasi tata kelola usaha, bagaimana mengurus hak paten, berikut proses perizinan usaha ekonomi kreatif. Ia juga berharap para pelaku usaha membuka diri dengan para pelaku usaha di bidang lainnya sebagai upaya mengembangkan usaha.
“Pelaku bisnis kuliner jangan hanya ngobrol dengan orang kuliner saja. Buka komunikasi dengan subsektor lainnya. Sharing komunikasi, diskusi. Cara pandang harus dirubah,” imbuhnya.
Sementara itu Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PPP, Reni Marlinawati menyebutkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif bisa berjalan lancar ketika para pengusaha mempunyai inovasi yang mengikuti perkembangan zaman.
Banyak para pelaku usaha tidak mengetahui tentang bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik, bagaimana mempermudah akses permodalan, dan awamnya mengurus masalah proses perizinan.
Ini perlu kerjasama antara UKM, pemerintah dan pengambil kebijakan lainnya. “Saya sudah sampaikan kepada teman-teman kementrian, inilah fakta ekonomi kreatif yang berkembang di Sukabumi begitu banyak dan potensial. Dengan diberi sedikit sentuhan. Saya yakin mereka bisa berkembang,” jelasnya.
Pengusaha kreatif bouqet tangan atau kerajinan tangan Sukabumi Yuli Wulandari merespon positif kegiatan Bekraf, namun ia meminta adanya followup minimal tiga bulan sekali pasca kegiatan.
Tak hanya followup, controlling pun dirasa perlu sehingga bisa diketahui sejauh mana pencapain perkembangan yang didapat oleh para pelaku usaha. “Saya juga ingin sampaikan kendala dibisnis kerajinan tangan itu susah dipengemasan, permodalan juga,” tutupnya. (cr11/t)



