Cara Unik Emak-Emak Bogor Nabung, Sudah Berkeliling Selama 23 Tahun, Terima Tabungan Uang Receh

  • Whatsapp

BOGOR-Uang recehan atau hasil kembalian belanja terkadang tak bisa ditabung lewat bank modern maupun konvensional.

Ternyata, Kota Bogor punya Mbak Tabungan yang rutin berkeliling mengumpulkan aneka recehan itu sebagai tabungan bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Nabung gak?” ucap seorang wanita paruh baya, Suliani, di halaman rumah salah seorang warga.

Warga itu menyambutnya dengan beberapa lembar uang dua ribuan. Uang itu diserahkan kepada Suliani, yang langsung dicatat pada buku tulis besar.

Tak lupa, ia mencatat nominal yang sama pada buku kecil lainnya untuk ditinggalkan di rumah itu. Buku kecil berwarna pink itu menjadi “buku rekening” para nasabah.

Ia tak berlama-lama di satu rumah. Lantaran masih harus menyusuri jalan dan lorong di lingkungan kelurahan yang sama. Hampir semua rumah disambanginya.

Tak peduli harus berjalan kaki dan bermandikan keringat. Terik matahari yang menyengat sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Suliani.

Perempuan yang tinggal di Pabuaran, Tanah Sareal itu bukan hendak menagih hutang atau kredit pinjaman.

Ia justru membantu masyarakat agar konsisten dalam menyisihkan uang tabungannya. Berapapun nominal rupiahnya, akan disimpan sebagai tabungan.

Jangan heran jika tas yang disalempangkan Suliani bakal bergemerincing dipakai berjalan.

“Iya, saya terima berapa pun yang mereka tabung. Kebanyakan memang uang recehan,” tuturnya, saat ditemui Radar Bogor di Kelurahan Cibadak, Kamis (2/9).

Tabungan “receh” itu malah menjadi kebiasaan bagi warga yang sudah menjadi nasabah. Mereka tak perlu menunggu Suliani untuk menyetorkan sejumlah uang.

Biasanya, setiap rumah memiliki semacam kotak pos atau tempat menempelkan buku rekening di dinding rumah.

Uangnya diselipkan disana dan Suliani hanya perlu mencatatnya di buku kas dan buku rekening nasabah. Setelahnya baru dikembalikan ke tempat semula.

“Biasanya kalau orangnya tidak ada, saya sudah hafal dimana mereka menyelipkan buku rekeningnya. Kalau ada uangnya, saya langsung catat dan taruh lagi bukunya,” ucap perempuan berjilbab ini.

“Mbak tabungan”. Begitu orang-orang biasa memanggil Suliani. Ia mengakui, julukan itu sudah sangat akrab karena pekerjaannya mengumpulkan uang untuk keperluan tabungan warga.

Ia sama sekali tidak berafiliasi dengan pelayanan bank komersil atau koperasi simpan pinjam manapun. Pekerjaannya menjumput uang receh dari warga secara manual sudah dilakoni selama 23 tahun.

Menurutnya, itu bukan waktu yang sebentar. Kepercayaan warga kepadanya sudah tak lekang dimakan usia. Ia juga selalu berusaha menjaga kepercayaan warga dengan sistem tradisional yang dibangunnya.

Toh, malah semakin banyak warga yang memanfaatkan skema menabung konvensional itu. Dibanding harus menyimpan ke bank, apalagi menyimpan uang di bawah kasur.

“Awalnya memang cuma sedikit warga yang menabung begini. Dalam sehari, saya cuma bisa kumpulkan sampai Rp100 ribu atau lebih. Namun, ternyata tambah banyak yang mau menabung. Saya dalam sehari bisa mengumpulkan jutaan setelah berkeliling dari rumah ke rumah,” bebernya.

Uang yang terkumpul itu tidak lantas disimpannya sendiri di rumah. Ia juga sama sekali tak memutar uang tersebut untuk investasi atau semacamnya.

Tabungan warga yang dikumpulkannya itu murni disetorkan langsung ke bank komersil. Akan tetapi, ia sengaja membuatkan rekening terpisah khusus diisi uang-uang tabungan itu.

Alasannya, agar ia bisa mengambilnya sewaktu-waktu warga atau nasabahnya membutuhkan dana tabungan itu.

Lantas, bagaimana dengan uang receh logam yang juga banyak dikumpulkannya? Ternyata, Suliani menukarkan uang-uang itu di tempat-tempat khusus.

Terkadang, minimarket juga menerima penukaran uang receh semacam itu karena membutuhkannya sebagai uang kembalian belanjaan pelanggan.

Setelah ditukarkan itulah ia baru menyetorkan ke bank yang menjadi tempatnya menyimpan tabungan warga.

“Supaya saya bisa langsung ambil kalau ada warga yang butuh. Kalau dipisah, saya juga tidak bisa pakai uangnya untuk pinjaman atau yang lainnya. Msmang murni untuk ditabung,” jelas ibu rumah tangga ini.

Aktivitasnya berkeliling door to door itu tentu mendapatkan komisi. Ia mengakui, komisi itu berasal dari penarikan warga setiap nominal Rp100 ribu. Ia menerima komisi Rp7.500 dari setiap penarikan Rp100 ribu itu.

Selebihnya, ia tidak mengenakan biaya apa pun. Bahkan, anak-anak yang biasanya menabung kecil-kecilan dibebaskannya menarik uang.

Padahal, ia melakoni pekerjaan itu dengan berjalan kaki setiap hari. Dari ujung Cibadak hingga mengelilingi kawasan Kayumanis.

Mulai dari jam 10 pagi hingga tengah hari.
Suliani punya kendaraan roda dua di rumahnya, namun enggan menggunakannya.

“Jalan kaki biar sekalian olahraga saja,” katanya sembari tertawa.

Menabung nominal kecil atau recehan itulah yang banyak membuat warga semakin gandrung menyimpan uangnya lewat Mbak Tabungan. Nasabahnya berasal dari berbagai kalangan.

Meski didominasi kalangan emak-emak, namun nasabah tambahan di satu rumah juga bisa diikuti dengan anak-anak mereka.

Salah seorang warga, St Aisyah mengakui, tabungan keliling itu sangat membantu dalam menyimpan uang.

Pasalnya, ia menganggap uang-uang kecil hasil kembalian belanja tak mungkin disimpan langsung ke bank komersil. Layanan bank digital yang semakin canggih juga tak memiliki fasilitas menyimpan uang dalam bentuk fisik secara langsung.

Dibanding membiarkan uang recehan itu hilang dan terbuang, tak ada salahnya menyetorkannya sebagai tabungan lewat Mbak Tabungan.

“Anak saya juga mulai menabung uangnya dari situ. Jadi, anak-anak bisa belajar menabung, biarpun cuma 500 perak setiap hari. Karena itu juga dicatat sama mbak tabungan,” ungkapnya, sambil memperlihatkan buku rekening kecil milik anak-anaknya.

Ia tak mengalami kesulitan apa pun jika hendak menarik uangnya. Mbak Tabungan takkan pernah menolak atau menunda-nunda nasabah yang akan menarik sejumlah uang.

Apalagi, pekerjaannya menyambangi rumah warga berlangsung setiap hari. Warga sudah hafal betul rutinitas itu. (mam)

Editor: Rany

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *