Bima Arya Minta Maaf, Pembangunan GKI Yasmin Dimulai

Pembangunan gereja GKI
Pembangunan gereja GKI

BOGORPembangunan gereja GKI Pengadilan di Cilendek Barat bakal dimulai. Peletakan batu pertama eks GKI Yasmin itu menandai pembangunan secara simbolis, Minggu (5/12).

Sejumlah forkopimda Kota Bogor hadir dalam acara peletakan baru pertama itu. Perwakilan GKI Pengadilan, Komnas HAM, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga turut serta mengawal proses seremonial tersebut.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto juga tampak senang dengan pembangunan GKI Pengadilan yang terus berproses. Sebagaimana janjinya sejak semula, ia akan mengawal proses pembangunannya hingga selesai. Itu untuk memastikan bahwa toleransi di Kota Bogor tidak pernah hilang.

“Saya beribu-ribu kali, berjuta kali, meminta maaf kepada keluarga besar GKI (Gereja Kristen Indonesia) karena momen ini terlambat 15 tahun. Harusnya bisa lebih cepat sehingga jemaat bisa menjalani ibadah dengan tenang dan damai,” tekannya.

Pembangunan gereja itu memang sempat menuai polemik selama lebih dari satu dekade di Kota Bogor. Bahkan, polemik itu menjadi PR besar yang menjadi fokus dan prioritas utama Bima Arya. Peletakan batu pertama sekaligus menandakan tuntasnya permasalahan yang sempat terbawa-bawa ke dunia internasional itu.

“Ini bukan persoalan membangun satu gedung gereja saja.
Tapi dalam rangka membangun basis tatanan toleransi bagi seluruh bangsa Indonesia. Kita akan kawal bersama-sama sampai kita nanti kembali lagi disini meresmikan gedung baru,” tegas lelaki yang baru-baru ini ditunjuk sebagai Ketua Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Menteri Agama (Menag) RI, Yaqut Cholil Qoumas tak menampik, menyatukan masyarakat majemuk dalam satu wilayah itu membutuhkan perjuangan yang panjang. Oleh karena itu, ia sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh pemkot Bogor dalam upaya menyatukan keberagaman di wilayahnya.

“Melalui peletakan batu pertama ini, kita semua membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang rukun dan damai, yang mana masyarakatnya mengedepankan musyawarah dan mufakat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemasyarakatan,” tegasnya.

Ia berharap, peletakan batu pertama itu berdampak terhadap pelayanan kepada masyarakat yang semakin luas. Tidak hanya menjangkau umat kristiani, melainkan bisa menjangkau lintas agama dalam konteks mempertebal kerukunan antar umat beragama. (mam)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *