BERITA UTAMAKOTA SUKABUMI

Warga Prana Kumpulkan Koin, Demi Akses Jalan

Sidang Class Action Ditunda

GUNUNGPUYUH – Warga Jalan Prana di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole terus memperjuangkan agar akses utama warga bisa dibuka leluasa kembali oleh pihak Sekolah Pembentukan Perwira Lembaga Pendidikan Polri (Stukpa Lemdikpol).

Mulai dari upaya hukum, hingga mengumpulkan uang koin untuk membeli lahan yang digunakan jalan Perana itu dilakukan.

Namun begitu, sidang class action yang diagendakan kembali ditunda. Lantaran, beberapa tergugat dan turut tergugat kembali tidak bisa hadir ke persidangan sehingga warga kecewa. Tergugat 1 Presiden RI, tergugat 5 wali kota (Sukabumi). Lalu turut tergugat 2 Menteri Keuangan dan turut tergugat 3 Gubernur Jawa Barat, tidak hadir dalam persidangan.

Loading...

Kuasa hukum warga, Andri Yules mengungkapkan, para tergugat tidak bisa hadir dalam persdiangan sehingga ditunda. Agendanya ditunda hingga bulan depan, dan ada pemanggilan kembali hingga 7 Januari 2020.

“Tergugat dan turut tergugat tidak bisa hadir, sehingga sidang ditunda. Pastinya, mengecewakan pihak penggugat. Masyarakat, butuh kepastian hukum dalam waktu cepat mengingat akes jalan tersebut digunakan untuk umum,” jelasnya, Selasa (10/12).

Ketua RT 07/02 Kelurahan Cikole, Ujang Rahmat mengungkapkan, pihaknya meminta dukungan masyarakat agar kami bisa membeli Jalan Perana untuk dipergunakan kembali demi kepentingan masyarakat. Koinnya bakal dikumpulkan dan akan kami serahkan kepada Kepala Setukpa Lemdikpol Polri.

“Berapapun jumlahnya dan akan kami serahkan kepada Kepala Setukpa Lemdikpol Polri. Kami ingin jalan itu dibuka selama-lamanya,” imbuhnya.

Sementara itu, itu, Kabagremin Setukpa Polri AKBP M Helmi menambahkan, pihaknya siap mengikuti proses persidangan. Helmi menyebut yang tidak hadir dalam persidangan bukanlah dari pihak Setukpa atau dari pihak kepolisian. Artinya pihaknya siap mengikuti proses selanjutnya.

Menanggapi complain warga dengan sistem buka tutup yang saat ini diberlakukan oleh Setukpa.

“Dulu yang lewat situ masih jarang, sekarang sudah banyak. Di mana-mana saya kira, ada yang masuk ke dalam lingkungan wilayah asrama itu tidak ada sebebas-bebasnya, pasti ada pembatasan, sudah normal seperti itu.

Hanya saja malam ditutup mulai jam 9 malam, pagi dibuka lagi. Kalau ada darurat ada yang jaga disitu, bisa dibuka, kuncinya dipegang di situ,” pungkas Helmi. (upi/t)

Loading...
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button