CIANJUR

Wadaw! Kota Bunga Kini jadi Tempat Wisata Seksual

RADARSUKABUMI.com – Penangkapan terduga mucikari yang dilakukan Mabes Polri di kawasan Kota Bunga Sukanagalih beberapa waktu lalu membuat pemerintah Desa Sukanagalih Kecamatan Pacet lebih waspada. Wisatawan yang datang hendak wisata lebih banyak menjadi memesan PSK di wilayah itu.

Kendati saat penangkapan tersebut tidak terlalu dilibatkan, tetapi pihak desa mengetahui adanya eksekusi penyergapan mucikari di wilayahnya tersebut.

”Saya juga tau adanya penangkapan waktu itu oleh Mabes Polri. Tetapi kalau secara teknis, kami memang tidak dilibatkan. Karena itu merupakan hak dan prosedur pihak kepolisian,” kata Kepala Desa Sukanagalih, Dudung Djaenudin saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (31/10).

Ia mengatakan, aktivitas prostitusi di Villa Kota Bunga sudah berjalan sejak lama dengan sasaran pelanggan ialah wisatawan, baik lokal ataupun mancanegara. ”Wisatawan yang datang dengan niatan awal untuk menikmati alam Cianjur yang sejuk pun jadi memesan perempuan untuk kegiatan seksual. Karena ditawari oleh orang-orang yang memang menjalankan usaha prostitusi,” kata dia.

Lebih lanjut ia mengatakan, adanya kegiatan itupun sebenarnya membuat warga tidak nyaman dan resah. Mengingat kawasan Villa Kota Bunga dan sekitarnya dianggap sebagai tempat untuk kegiatan negatif.

Selain itu, Dudung memaparkan, bahwa salah satu terduga pelaku mucikari warga Desa Sukanagalih itu memang benar adanya dan bahkan diakui Dudung, terduga Om Gress (muncikari, red) itu pun telah lama beroperasi dengan teman lainnya yang sama seprofesi sebagai gembong penjaja seks komersial.

”Itu kan salah satu warga Sukanagalih. Hanya saja kami tak bisa apa-apa karena memang itu hal pribadi masing-masing. Kami pun tak bisa intervensi. Hanya pernah beberapa waktu lalu diimbau,” ujarnya.

Menurutnya, secara prosedur dan izin awal kota bunga, memang kini sudah tidak benar lagi. Karena sebelumnya, izin kota bunga itu adalah hunian rumah tinggal bukan untuk di sewakan.

Lebih lanjut, Dudung mengatakan, bukan tidak dilakukan komunikasi, tetapi pihak pemerintah desa pun sempat berkoordinasi dengan sejumlah pihak baik kepolisian maupun MUI, Polisi Pamong Praja (Pol PP), dan pihak lainnya untuk segera mengatasi penyakit masyarakat tersebut.

”Ketika ada penangkapan pun memang pihak kepolisian dari pusat jarang ada komunikasi dengan kami. Tapi itu tidak jadi masalah, karena memang hak dan prosedur pihaknya. Kami sangat mendukung sekali ketika ada penertiban seperti itu,” jelasnya.

Dalam penangkapan para terduga itu, memang sempat diintai terlebih dulu oleh pihak kepolisian. Mulai dari menyewa vila, hingga menyamar sebagai pengguna jasa prostitusi di Kota Bunga.
”Saya pun sempat mendengar dan tau adanya pengintaian pihak kepolisian Mabes Polri di kota bunga. Tapi kami sadar, dan hanya mendukung saja. Tidak berhak ikut campur dalam penanganan tersebut,” tuturnya.

Di sisi lain, Kapolres Cianjur, AKBP Juang Andi menuturkan, pihaknya sudah melakukan upaya untuk mengungkap dan menertibkan aktivitas prostitusi di kawasan villa Kota bunga dan titik lainnya di Cianjur utara.

Namun, dia mengaku kesulitan untuk bisa mengungkap secara keseluruhan. Sebab ketika petugas datang untuk menggelar razia, para pelaku prostitusi sudah tidak ada di lokasi.

”Kami sedang menyiapkan cara lagi untuk memberantas secara total agar tidak ada lagi kegiatan prostitusi di sana. Sebab mereka kan menjajakan PSK dengan kendaraan, sehingga sering berpindah.dan razia pun seperti sudah diketahui sebelumnya. Tapi kami tidak akan berhenti untuk membuat kawasan Kota bunga steril dari prostitusi,” pungkasnya.

(RC/dan/izo/rs)

Tags

Tinggalkan Balasan