ARTIKEL

Tiga Pesan Untuk Nadiem Karim

Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Sampai saat ini pesona Mendikbud “milenial” Nadiem Karim masih menjadi diskursus menarik. Muda, tokoh gojek, handsome dan kisah lainnya tentang Beliau tetap akan menarik dibicarakan.

Saat sejumlah pejabat pasca dilantik tancap gas bekerja di 100 hari pertama. Maka Nadiem Karim malah “tidak bekerja” Ia mengambil langkah cerdik yakni mendengarkan, menyerap dan menampung sejumlah informasi terkait dunia pendidikan.

Apakah sesungguhnya masukan dan informasi paling urgen saat ini terkait tatakelola pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Tentu di 100 hari pertama “mendengarkan” suara publik akan bermunculan sejumlah masukan penting.

Ribuan aspirasi yang masuk pada Nadiem Makarim tentu akan dipilah dan dipilih mana yang paling utama. Ia akan meramu dan tidak menutup kemungkinan akan dibuatkan aplikasi khusus. Aplikasi apa yang akan hadir memberi solusi? Kita tunggu!

Sebagai guru dan pengurus organisasi profesi Saya sampaikan tiga pesan atau aspirasi terkait dunia pendidikan. Pertama terkait nasib guru honorer yang berprestasi. Guru honorer yang terbukti dedikatif dan berprestasi sebaiknya mendapatkan afirmasi khusus. Perbaiki kesejahteraannya. Tak mesti jadi PNS.

Kedua terkait anak didik, perlu ada aplikasi khusus yang membuat mereka semangat dan bahagia dalam belajar. Bila ruang kelas bagaikan ruang gadget, mereka akan lebih semangat. Anak era milenial harus dilayani secara milenial. Pendidikan milenialis berbasis TI dengan tetap bersubstansi karakter wajib dipertimbangkan.

Ketiga terkait rekrutmen guru, organisasi profesi guru dan kompetensi guru. Perketat rekrutmen CPNS guru, tertibkan organisasi profesi guru dan beri ruang yang mudah dan luas terhadap upaya peningkatan profesi guru. Guru kompeten, tertibnya organisasi profesi guru dan kemudahan bagi guru untuk improve adalah penting.

Guru kompeten dan kreatif tak bisa digantikan oleh robot atau google. Guru punya hati dan rasio. Potensi ini tidak ada dalam aplikasi dan robot. Nadiem Makarim adalah ahli masa depan. Ia wajib membuat sebuah lompatan bagaimana membuat tatakelola dunia pendidikan lebih wow. Jokowi seorang visioner, Ia punya kalkulasi di luar jangkauan nalar publik. Nadiem Makarim baginya adalah solusi.

Jokowi menghendaki sebuah lompatan dan jauh dari tradisi mainstream untuk dunia pendidikan. Dunia pendidikan bukan dunia proyek dan dunia bagi bagi kue pembangunan. Dunia pendidikan adalah dunia sakral karena terkait nasib masa depan bangsa. Proyek pendidikan adalah proyek kebudayaan dan kemuliaan masa depan umat manusia. Apakah Nadiem mampu? Kita lihat, kita doakan dan kita dukung!

Tags

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close