EKONOMI

Harga Sayuran Meroket, Pasokan Dari Petani Berkurang

SUKABUMI – Musim kemarau yang berkepanjangan mempengaruhi harga komoditas sayuran di Pasar Tradisional Pangleseran, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar. Pasokan sayur dari petani berkurang, harga pun naik.

Seorang pedagang sayuran, Aldi Nurdiansyah (28) asal Kampung Tanjungsari, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh mengatakan, harga sayuran mengalami kenaikan di pasar tradisional Pangeleseran.

Yakni, buncis dari harga Rp8 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram, labu dari harga Rp2 ribu menjadi Rp3 ribu per kilogram dan sayuran sawi dari Rp6 ribu naik menjadi Rp8 ribu per kilogram. “Kenaikan harga sayuran ini, sudah berlangsung dua pekan terakhir,” jelas Aldi kepada Radar Sukabumi, kemarin (23/5).

Menurut Aldi, kenaikan harga membuat para pembeli mengeluh. Tentunya hal itu pun berdampak pada daya beli konsumen menjadi menurun. “Biasanya, pemebeli bisa belanja lebih banyak, cuman karena harga naik jadi belinya lebih sedikit,” ujarnya.

Akibat musim kemarau ini, ujar Aldi, menyebabkan kualitas sayuran menjadi menurun dari biasanya. Sayuran yang didapatkan dari pemasok kondisinya tidak terlalu segar sehingga lebih cepat layu. Akibatnya, pedagang sering mengalami kerugian karena sayuran tidak laku.

“Saya mendapatkan sayuran ini, dari petani daerah Cianjur dan Goalpara Sukaraja. Tetapi akhir-akhir ini kualitasnya menurun,” bebernya.

Hal serupa dikatakan, Mohammad Andri (45) yang merupakan pedagang sayuran di pasar tradisional tersebut. Ia mengaku, akibat kenaikan harga sayuran itu berdampak terhadap omset penjualannya menurun.

“Biasanya saya berjualan bisa menghasilkan Rp3 juta tiap bulannya, namun saat ini hanya bisa mengantongi laba sebesar Rp1,5 juta perbulannya,” katanya.

Di tempat yang berbeda, seorang petani tomat di perkebunan Goalpara, Muhammad Rukmana (45) asal Kampung Ulu-ulu, RT 5/4, Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja mengatakan, akibat musim kemarau ini, banyak tanaman sawi di perkebunan Goalpara Sukaraja yang mati dan membusuk.

Lantaran, area pertanian warga tidak teraliri air secara maksimal. “Akibat kekurangan pasokan air, banyak tanaman sawi di perkebunan Goalpara yang mati,” jelasnya.

Ia menambahkan, selain kesulitan air, para petani juga mengeluhkan soal banyaknya serangan hama ulat griyek yang menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak maksimal. “Jika tidak segera diantisipasi, serangan hama ini dapat menyebabkan tanaman mati,” pungkasnya. (den/d)

Tags

Tinggalkan Balasan