Pondok PesantrenSUKABUMI

Hari Santri, Pesantren Tempat Memperkuat Karakter Bangsa

JAKARTA – Jawa Pos – Hari ini (22/10) bangsa Indonesia memperingati Hari Santri. Malam puncak Hari Santri 2019 digelar di Lapangan Banteng Jakarta tadi malam (21/10). Kementerian Agama (Kemenag) mengemas kegiatan tahunan ini dengan tajuk Syiar dan Syair Perdamaian.

Diantara pengisi malam puncak Hari Santri itu adalah kelompok shalawatan Syubbanul Muslim dari Probolinggo. Sejumlah santriwati sempat histerik ketika Gus Azmi melantunkan shalawat diiringi alunan rebana yang menghentak.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin turut hadir pada malam puncak Hari Santri. Pada malam puncak itu juga dibacakan renungan hari santri oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin. Dia mengatakan pesantren adalah pusat unggulan kebudayaan dan kebangsaan. “Pesantren tempat memperkuat karakter bangsa,” katanya.

Selain itu Kamaruddin mengatakan pesantren menjadi center of excellence atau pusat membedah Al-Qur’an dan Al Hadis. Kemudian pesantren harus menjadi pusat unggulan untuk membangun literasi media, literasi digital, bahkan literasi keuangan. Selain itu Kamaruddin mengatakan pesantren menjadi tempat bagi politisi untuk berebut pengaruh dan dukungan.

Malam puncak Hari Santri juga menghadirkan Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan. Dia menyampaikan pesan soal mencari ilmu. “Dahulu saja ustadznya aneh-aneh, apalagi sekarang. Maka harus lihat-lihat sumber ilmunya,” katanya.

Habib Jindan mengatakan untuk mencari ilmu, cari orang yang pandai menerjemahkan ilmunya di kegiatan sehari-hari. Baginya kalau sekadar ngomong saja, banyak. Baginya bahasa sikap lebih menggaung ketimbang bahasa ucapan saja. Dia mencontohkan para Walisongo dulu orang berilmu yang juga pandai menyampaikan bahasa kasih sayang, bahasa kesantunan, dan bahasa budi pekerti.

Dia lantas menyinggung kriteria seorang santri. Baginya santri itu harus bisa menjaga sikap tawadhu dan penuh kesantunan. Kemudian juga memiliki hubungan komunikasi dengan Allah yang baik. “Kalau santrinya harus seperti itu, apalagi ulamanya, apalagi gurunya, apalagi kiainya,” tuturnya.

Hari santri diperingati setiap 22 Oktober. Penetapan Hari Santri merujuk pada Keppers 22/2015. Dipilihnya 22 Oktober bertepatan dengan terbitnya resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi ini keluar untuk mencegah kembalinya serdadu Belanda. (wan/JPG)

Tags

Tinggalkan Balasan