CIANJUR

TKW Cianjur Hilang Kontak 21 Tahun di Arab Saudi

RADARSUKABUMI.com – Proses pemulangan Alis Juariah binti E Rukma, pekerja migran Indonesia, warga Kampung Muhara RT 02 RW 10, Desa Haurwangi, Kecamatan Haurwangi hingga saat ini masih belum menemui kejelasan.

Alis yang bekerja di Arab Saudi sebelumnya dilaporkan hilang tanpa kontak selama 21 tahun oleh keluarganya. Alis meminta tolong agar dipulangkan ke Indonesia lantaran diduga menerima perlakuan yang tak semestinya dari majikannya. Alis Juariah diketahui bekerja kepada majikan bernama Saed Aljahrani yang berada di kota Riyad, Saudi Arabia.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sendiri sudah mengonfirmasi bahwa Alis akan dipulangkan dalam kurun waktu 25 hari sebagaimana surat yang diterima keluarga pada 29 Agustus 2019 lalu.

Akan tetapi, sampai hari ini, Alis Juariah masih belum juga bisa bertemu dengan keluarganya di Cianjur. Karena itu, pihak keluarga pun mempertanyakan keseriusan pihak-pihak terkait.

“Saya dan keluarga terus berharap setiap hari agar ibu saya bisa dipulangkan ke kampung halaman,” ujar anak Alis Juariah, Selpi Lusniawati (27), Rabu (15/10).

Selpi menuturkan, sebelumnya, dirinya menerima telepon pada malah hari dari ibunya. Anehnya, itu bukan nomor ibunya sendiri, melainkan nomor majikannya.

Keanehan yang cukup dicurigainya adalah permintaan tidak masuk akal ibunya. “Pernah malam-malam nelepon pakai nomor majikan, tapi herannya minta ke saya tuntutan dicabut,” terangnya.

Selpi menjelaskan, pihaknya memang mengajukan tuntutan yang disampaikan ke Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan BNP2TKI. Dalam tuntutan itu, pihak keluarga menuntut pemulangan Alis Juariah dan meminta semua hak dan gaji ibunya yang selama ini tidak dibayarkan majikan.

Selain itu, keluarga juga melaporkan majikan Alis Juariah telah melakukan dugaan penyekapan. Alasannya, selama ini, Alis tidak diperbolehkan menghubungi keluarganya dan tidak diperbolehkan pulang ke Indonesia.

Jika memang benar ibunya tidak mau pulang ke Indonesia dan dalam keadaan yang baik-baik saja, Selpi mengaku mau menerimanya. Hanya saja pihaknya mempertanyakan kenapa sampai ibunya sulit untuk berkomunikasi dan selalu menggunakan nomor majikannya untuk berkomunikasi singkat.

“Jadi tanda tanya. Ini jangan-jangan permainan majikan,” ucapnya.

Atas alasan itu, sambungnya, dirinya berencana akan membuat surat yang ditujukan kepada Raja Salman agar ibunya secepatnya dipulangkan ke Indonesia.

“Saya akan membuat surat ke raja Salman, mudah-mudahan didengar,” tutur Selpi yang menahan sedih.

Sementara itu, Ketua DPC Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (Astakira) Pembaharuan Kabupaten Cianjur, Ali Hildan mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan petugas KBRI di Arab Saudi. Namun hingga saat ini belum juga mendapatkan keterangan resmi terkait kepulangan Alis Juariah.

“Kami selaku kuasa terus koordinasi dengan petugas KBRI, tapi jawabannya masih dalam proses,” ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Najib ini membenarkan bahwa surat yang dikirimkan KBRI kepada keluarga menjelaskan bahwa Alis Juariah akan dipulangkan dalam kurun wakti 25 hari sejak petugas KBRI menghubungi majikan Alis Juariah.

“Sekarang sudah hampir dua bulan lebih, belum ada perkembangan,” terangnya.

Terkait vidio Alis meminta anaknya mencabut tuntutan yang diajukan ke KBRI, Najib menduga, video yang dikirimkan melalui nomor majikannya itu besar kemungkinan rekayasa.

Menurutnya, di dalam video dimaksud, ekspresi wajah Alis Juariah terlihat tengah berada di bawah tekanan. Diduga, tekanan itu tidak lain dilakuan majikannya.

Pihaknya pun berharap, pemerintah melalaui intansi terkait agar betul-betul menindaklanjuti kepulangan Alis Juariah ke tanah air agar kekhawatiran keluraga PMI tersebut cepat terjawab.

“Kami berharap pemerintah agar betul-betul memprioritaskan perlidungan WNI dan Alis Juariah cepat dipulangkan,” tegasnya.

(RC/kim/pojokjabar/izo/rs)

Tags

Tinggalkan Balasan