KABUPATEN SUKABUMISukabumi

Lina dan Tuti, 2 Warga Sukabumi yang ‘Dijual’ dan Disekap di Irak

RADARSUKABUMI.com – Ada dua warga Kabupaten Sukabumi yang menjadi korban perdagangan dan disekap di Irak. Mereka adalah Lina dan Tuti.

Mereka sempat disekap bersama 5 (lima) korban perdagangan manusia atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO) lainnya dari berbagai daerah asal Jawa Barat. Kelima orang itu adalah Rustia, Septiani, Erum, Diana, dan Ani.

Menurut Septiani Almukaromah, korban asal Kabupaten Karawang, alamat keduanya berada di Kampung Tangkolo, Desa Cibuntu, RT 26/06, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

“Dia juga salah satu korban kayak kami, dan bahkan kemarin kami kabur bareng, teh, dan Lina ini yang disuruh menulis surat tentang semua TKW yang kabur itu karena tertekan,” aku Septi kepada Pojokjabar.com, Selasa (15/10/2019) malam.

Menurut Septi, dirinya bersama Rustia berada di Irak dengan beda sponsor. Hanya saja, katanya, kesemua korban ini kini sama-sama berada di Irak.

Seorang TKW ilegal, korban perdagangan manusia asal Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi di Irak, Lina, mengaku mendapatkan tekanan dan paksaan untuk turut menekan temannya sesama korban.

Hal itu diungkap korban perdagangan manusia asal Kabupaten Karawang, Rustia.

“Lina dipaksa untuk membuat surat itu, tapi nggak tahu siapa yang tanda tangan,” ujar Rustia kepada Pojokjabar.com, Selasa (15/10/2019) malam.

Lina yang juga menjadi TKW ilegal ini mengaku, katanya, bahwa itu semua hanyalah rekayasa saja akibat paksaan dari pihak agen sewaktu posisinya sendirian disekap.

“Yang lainnya sudah kerja sama majikan,” ungkapnya.

Berdasarkan pengakuan Lina, katanya, ia dipaksa menulis untuk Rustia, Septiani, Tuti, Tia, Erum, dan Diana.

Lina menyebut, masih kata Rustia, oknum yang menandatangani surat itu berinisial IC.

“Dia di hotel ditekan, diancam, dia menyelamatkan diri saja setelah semua ninggalin (kerja dengan majikan, red). Dia digampar, diludahin mukanya, dijambak rambutnya,” katanya.

Menurut Rustia, Lina meminta agar dirinya tidak takut lantaran itu hanya paksaan dan rekayasa semata.

Sementara, menurut Septia, korban perdagangan manusia asal Kabupaten Karawang, kejadian ini terjadi saat ketujuh korban kabur.

“Mungkin yang lain sudah pada berangkat kerja karena terpaksa, kita gak mau mati kelaparan, dan ada mungkin 1 sisa orang lagi di hotel, namanya Lina. Dia juga sama seperti kita, namun dia lebih tertekan,” akunya.

(mar/pojokjabar/izo/rs)

Tags

Tinggalkan Balasan