POLITIKSUKABUMI

Pilbup Sukabumi 2020: Marwan Anti Politisi vs Adjo yang Berdarah-darah

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Duel head to head antara Marwan Hamami melawan Adjo Sardjono dipastikan bakal tersaji pada Pemilihan Bupati Sukabumi 2020 nanti. Disharmoni politik antar kedua pasangan kepala daerah petahana ini terjadi lantaran dukungan masif dari masing-masing kubu.

“Ini dinamika. Saya dan Pak Marwan bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diatur dalam Undang-undang. Secara personal tidak pernah ada perselisihan. Partai Pengusung Marwan – Adjo masih solid, insya Allah sampai selesai masa pengabdian,” kata Adjo Sardjono, Wakil Bupati Sukabumi kepada Radarsukabumi.com.

Sementara itu, pengamat politik Muhammad Tahsin Roy mengatakan, sejumlah partai politik di tingkat Kabupaten Sukabumi mulai tangkas dalam merespons peta politik pilkada 2020 mendatang. Dia pun mengutip istilah yang diucapkan oleh Kaisar Agustus, festina lente atau bergegas tetapi perlahan.

“Saya kira mereka tengah menerapkan strategi zona injury time, taktik ini dimainkan untuk saling mengunci antara partai politik koalisi sehingga tidak ada ruang komunikasi serta lobi tingkat tinggi elite partai,” kata Ketua Lingkar Kajian Demokrasi Sukabumi Tahsin Roy kepada Radarsukabumi.com, Senin (7/10/2019).

Melihat perkembangan politik terkini, Roy menyebutkan ada tiga komposisi yang bakal terjadi. Yakni, Marwan Hamami – M Kamaludin Zen, Adjo Sardjono – Iman Adinugraha atau Adjo Sardjono – Anjar Priatna Sukma.

Ketiga simulasi komposisi pasangan cakada Kabupaten Sukabumi ini bukan tak mendasar. Marwan bisa dipastikan akan menggandeng pasangan dari birokrat sehingga hampir mustahil dari kalangan politisi. Sementara Adjo masih sangat terbuka oleh siapapun yang potensial untuk menjadi calon wakil bupati.

“Jika petahana memutuskan untuk mengambil nama papan dua dari kalangan politisi, maka sulit dipastikan membentuk koalisi besar. Faktornya, ego antar pimpinan partai politik, kedua mesti merogoh kocek yang cukup besar,” tutur Roy menyinggung soal Marwan.

“Sebaliknya, jika Adjo Sardjono memaksakan untuk mengambil nama papan dua dari kalangan birokrat, maka jelas langkah ini akan berdarah-darah, mulai dari lobi-lobi antar partai politik, juga upaya meningkatkan elektoral,” lanjutnya membahas tentang sisi Adjo.

Kendati demikian, kata Roy, semua masih cair dan serba mungkin terjadi karena belum final. Sehingga bicara tentang siapa dengan siapa tidak bisa didikte karena masih menakar.

“Pimpinan partai juga melihat elektabilitas, kongkritnya masih menunggu hasil survey. So, wait and see,” ujarnya.

(izo/rs)

Tags

Tinggalkan Balasan