KABUPATEN SUKABUMI

30 Hektare Lahan Pertanian di Desa Sukaresmi Kekeringan

CISAAT – Puluhan hektare lahan pertanian di wilayah Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, tidak bisa ditanami padi, akibat kekeringan. Selain faktor musim kemarau, hal ini pun disebabkan karena kerusakan irigasi dan minimnya cadangan air.

Kepala Desa Sukaresmi, Jalaludin mengatakan, dari jumlah total sebanyak 290 hektare lahan partanian di wilayah Desa Sukaresmi, terdapat 30 hektare lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Akibatnya, puluhan lahan pertanian itu, tidak bisa ditanami padi. Lantaran, tidak adanya sumber air untuk mengairi lahan pesawahan warga.

“Sebanyak 30 hektare lahan pesawahan yang kondisinya tidak bisa ditanami padi itu, sudah berlangsung sekitar lima bulan, khusunya di wilayah Blok 1, tepatnya mulai Tegal Baru, Pasri Huni dan daerah Babakan Jawa,” jelas Jalaludin kepada Radar Sukabumi, kemarin (16/9).

Ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Desa Sukaresmi ini, hanya mengandalkan saluran irigasi dari sungai Cigunung. Namun, karena musim kemarau, air tersebut tidak bisa didistribusukan secara maksimal ke lahan pertanian warga.

“Iya, kalau di wilayah ini kan kebanyakan mengandalkan air hujan, karena sebagian lahan pertanian ada di perbukitan. Jadi, kalau musim kemarau, pasti banyak lahan pertanian yang mengalami kekeringan,” ujanya.

Setiap musim kemarau, ujar Jalaludin, lahan pertanaian padi di wilayah Desa Sukaresmi, selalu mengalami kekeringan. Untuk itu, bila warga menanam padi di musim kemarau, maka berpotensi mengalami gagal panen.

“Untuk mengantisipai kekeringan ini, kami berencana akan melakukan musyawarah dengan warga dan para kadus untuk mencari solusi yang baik mengenai kekeringan ini,” imbuhnya.

Seorang warga Rusliansyah (33) asal Kampung Cijambe Kali Pasir, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat mengatakan, ia membenarkan menganai puluhan hektare lahan pertanian di wilayah Desa Sukaresmi yang tidak bisa ditanami padi, akibat musim kemarau.

“Sudah empat bulan lahan pertanian di Kampung Cijambe ini, tidak bisa ditanami padi, karena air untuk mengairi lahan pesawahan tidak sampai ke sini,” jelasnya.

Dirinya menjelaskan, akibat musim kemarau ini, lahan pertanian seluas 15 ribu meter persegi di Kampung Cijambe RT 11/5 dan RT 6/12, Desa Sukaresmi tidak bisa ditanami padi. Akibatnya, para petani menderita kerugian puluhan juta rupiah.

“Dari luas pesawahan tersebut, setiap musimnya menghasilkan 20 ton gabah yang nantinya menghasilkan sebanyak 15 ton beras. Iya, kalau dinominalkan sekitar Rp80 juta,” bebernya.

Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah dapat segera memberikan solusi kepada petani dalam menghadapi musim kemarau ini. Sehingga, lahan pertanian warga tidak mengalami kekeringan yang dapat berdampak terhadap hasil pertaniannya menurun.

“Semoga saja, musim kemarau segera berakhir agar kami tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan air,” pungkasnya. (den/d)

Tags

Tinggalkan Balasan