ARTIKEL

Kepsek Terpapar Radikalisme

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Ungkapan Gubernur Jawa Tengah tentang adanya tujuh kepala sekolah negeri yang terpapar faham radikalisme tentu bukan sebuah hoaxs. Ganjar Pranowo dan Khofifah Indar Parawansa dalam acara “Halaqoh Kyai Santri Tentang Pencegahan Terorisme” di Hotel Grand Syahid Salatiga, mengiyakan adanya sejumlah guru negeri yang terpapar radikalisme.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam kesempatan sama, menyatakan tentang masifnya penyebaran radikalisme di lingkungan sekolah. Benarkah demikian? Tentu ada benarnya dan bisa sangat benar analisa dua gubernur di atas. Bukankah kita pernah dihebohkan dengan hasil sebuah survai yang mengatakan maraknya faham radikalisme disebarkan di sekolahan?

Bisa jadi ketujuh kepala sekolah negeri di Jawa Tengah adalah sebuah fenomena gunung es. Terlihat dan terdeteksi tujuh padahal _mungkin_ realnya bisa tujupuluh atau tujuhratus guru negeri terpapar radikalisme. Hasil survai dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, sebagian anak didik sepakat bahwa orang murtad boleh dibunuh. Bila ajaran ini menguat di ekstrakurikuler “tertentu” di sekolah tentu sangat bahaya.

Pancasila sebagai dasar negara mulai digerogoti oleh faham radikal. Bahkan yang menolak Pancasila sebagai dasar negara adalah kalangan terdidik atau terpelajar. Dan mereka juga menduduki jabatan puncak atau strategis dalam birokrasi pemerintahan atau BUMN. Bagaimana bila para ASN, pimpinan BUMN, BUMD dan sejumlah guru di sekolah swasta yang tata kelolanya bukan oleh pemerintah langsung, menjadi “biang” radikalisme? Bahaya!

Faham radikalisme bisa dinjeksikan pada anak sekolah sejak SD dan SMP dalam sebuah ajaran anti pancasila. Tentu ajaran dan ajakan ini disampaikan oleh pendidik yang terpapar. Pada saat anak didik sudah SMA atau kuliah dilanjutkan oleh guru dan sejumlah alumni dari ekstarakurikuler tertentu.

Saat mahasiswa Saya pun pernah diajak sejumlah mahasiswa untuk mengadakan kajian tafsir Al Qur’an. Satu kali Saya ikut dan selanjutnya Saya absen karena substansinya diselewengkan dengan menolak Pancasila dan bahkan menjelaskan orangtua kita sebagai kafir.

Saat Saya menjadi guru, Saya pun mempunyai anak didik yang unik yakni tidak suka ikut upacara. Malah Ia sembunyi di ruang ekstrakurikuler. Bahkan sampai saat ini Saya sering melihat gerakan sejumlah alumni yang berbau radikalisme dengan simbol dan narasi yang mengindikasi pada terpaparnya faham radikalisme.

Plus sejumlah guru pun terindikasi faham radikalis penolak Pancasila. Namun mereka tetap ASN dan menerima gaji dari negara Pancasila. Alasannya sebuah negara harus dengan sistem tertentu. Sistem ini dibawa dari dan ditularkan dari organisasi di luar negeri yang sudah dilarang di beberapa negara. Bagi mereka bendera tertentu lebih utama dibanding bendera merah putih.

Menarik sebuah sambutan atau narasi anti radikalisme yang disampaikan Ketua Majelis Wali Amanat UPI Bandung Dr. (HC). KH. As’ad Said Ali saat acara pengambilan sumpah profesi guru. Hampir seribu guru yang lulus PPG diberi pencerahan terkait agama. Ketua Majelis Wali Manat UPI menyatakan pentingnya toleransi dalam negara Pancasila.

Setiap penganut agama di negeri ini mengabdikan diri untuk negara. Hal ini disampaikan sesudah semua peserta lulus PPG disumpah atas nama agama masing-masing. Keber-agama-an kita harus kontributif pada negara bukan kontradiktif apalagi melawan negara.

Keanekaragaman bangsa kita adalah sebuah keniscayaan. Toleransi dan kuatnya kebersamaan harus menjadi prioritas. Terutama para guru harus menjadi agen toleransi bukan malah menebar faham radikalisme. PGRI sebuah organisasi profesi guru sudah sangat kontributif dalam menebarkan keberagaman. Dalam organisasi PGRI sangat unitaristik, semua golongan dan agama ada di PGRI. PGRI adalah wajah kebangsaan dan toleransi para guru. PGRI akan meminimalisir segala bentuk radikalisme.

Bagi para guru, para kepsek negeri dan swasta “bertobatlah” negeri ini adalah negeri Pancasila, bukan negeri Suriah. Keragaman adalah keniscayaan bahkan sejumlah agama pada hakekatnya adalah “design” Tuhan sebagai ujian bagi kita.

Apakah kita saling mencintai atas nama agama? Ataukah kita saling benci atas nama agama? Apakah orang lain kafir atau saudara beda agama? Mari kita menjadi warga negara yang toleran dan memahami substansi agama dengan benar. Salaing mencintai seagama itu biasa, mari belajar saling mencintai saudara beda agama. Bapak kita sama Nabi Adam AS.

Tags

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close