FeaturedSUKABUMI

Mengenang Bacharudin Jusuf Habibie, Masa Kecil Hingga Masa Remaja (1)

Fokus agar Usil Tetap Genius

RADARSUKABUMI.com – Pada Juni 2016, menjelang ulang tahun ke-80 Bacharudin Jusuf Habibie, koran Jawa Pos membuat liputan khusus tentangnya. Mulai dari masa kecilnya hingga remaja, saat memupuk cinta dan cita di Jerman, dan hari-harinya setelah istrinya, Ainun meninggal dunia. Artikel dari koran Jawa Pos tersebut kami unggah ke radarsukabumi.com untuk mengenang kembali, B.J Habibie yang wafat hari ini, Rabu (11/9).

GENIUS sebagai pembuat pesawat. Presiden ketiga RI pada masa transisi Orde Baru ke reformasi. Setia dan romantis sebagai suami. Bacharuddin Jusuf Habibie akan terus menjadi inspirasi. Kepada Jawa Pos, menjelang ulang tahunnya yang ke-80 Sabtu (25/6), dia berkisah tentang perjalanan hidupnya untuk menjadi pelajaran bagi anak bangsa.

SEPERTI semua orang, Habibie tidak bisa memilih siapa yang akan melahirkannya. Dia terpilih menjadi anak keempat pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan Tuti Marini Puspowardojo

Pasangan yang sejak menikah harus terusir dari keluarga besarnya. Alwi yang merupakan orang Bugis Gorontalo tidak bisa diterima keluarga Tuti yang ningrat Jogjakarta. Demikian pula sebaliknya.

“Kenapa dulu menikah harus dengan saudara sendiri? Supaya tanah atau harta tidak jatuh ke orang lain. Makanya, sebisa mungkin menikah dengan sepupu atau kerabat dekat,” kata Habibie kepada Jawa Pos di Wisma Habibie-Ainun, Kawasan Patra Kuningan, Jakarta, Minggu (19/6).

“Karena itu, ketika Papi saya yang Bugis menikahi Mami yang Jawa, keluarga besar memusuhi,” lanjutnya dengan mata terbuka lebar.

Tuti, seorang siswa HBS (sekolah menengah zaman kolonial), berkenalan dengan Alwi yang tengah belajar di Sekolah Pertanian Bogor. Cinta pun bersemi. Mereka lantas memutuskan untuk menikah. Bahwa kedua keluarga besar menolak, mereka tetap ngotot.

Karena tidak diterima keluarga besar, mereka memilih hidup mandiri. Meninggalkan rumah orang tua di Gorontalo. Dengan bekal pendidikannya yang sangat tinggi ketika itu, Alwi memboyong keluarganya untuk tinggal di Parepare, tempat dia bekerja sebagai ahli pertanian. Tuti memilih menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak mereka di rumah

Meski harus jauh dari keluarga, Alwi dan Tuti bisa hidup dengan tenteram serta berkecukupan. Banyak anak banyak rezeki. Mereka membimbing anak-anaknya dalam suasana intelektual dan keagamaan yang tinggi.

Namun, Tuhan berkehendak lain. Alwi pergi terlalu cepat karena serangan jantung. Pada 13 September 1950, dia meninggal dalam usia masih 42 tahun. Ketika itu, mereka sudah tinggal di Makassar. Tuti yang saat itu hamil tujuh bulan harus menghidupi tujuh anak seorang diri.

“Demi Allah, seluruh anak-anak akan kusekolahkan setinggi-tingginya dengan biaya dan keringatku sendiri,” kata Habibie mengenang janji maminya ketika itu.

Masih dalam suasana berduka tidak lantas membuat Tuti segan untuk menunaikan janji kepada almarhum suaminya. Baru berselang beberapa hari dari peringatan 40 hari meninggalnya Alwi, Tuti mengirimkan Rudy, sapaan Habibie, ke Jakarta. Tujuannya, Habibie mendapatkan sekolah yang lebih baik.

Padahal, ketika itu Habibie yang kelahiran 25 Juni 1936 baru berusia 14 tahun. Dia harus berlayar selama tiga hari seorang diri. Bocah bertubuh kecil itu hanya berbekal foto pamannya, Subarjo, yang akan menjemputnya di Tanjung Priok.

Beberapa bulan bersekolah di Jakarta, Habibie tidak kerasan. Cuaca yang panas membuat prestasinya drop. Padahal, selama di Sulawesi, dia selalu memperoleh rapor bagus. Dia pun memutuskan untuk pindah ke Bandung. Harapannya, dengan cuaca sejuk, dirinya bisa belajar dengan lebih baik.

Habibie semakin kerasan di Bandung karena setahun kemudian, pada 1951, maminya menyusul ke Kota Kembang. Bersama saudara-saudaranya. Keputusan itu diambil Tuti karena dia merasa akan buruk bagi Habibie jika saat masih kecil seperti itu harus tumbuh sendiri.

Tuti menjual seluruh asetnya di Parepare dan Makassar. Di Bandung, dia membeli tiga rumah di Jalan Imam Bonjol. Rumah tersebut sekaligus menjadi tempat usahanya. Mulai menyewakan kamar untuk indekos, mes, hingga usaha katering.

“Dia mungkin perempuan pertama yang membuat katering di Indonesia. Kalau zaman sekarang, dia itu bisa disebut entrepreneur,” puji Habibie tentang ibunya.

Sekolah Rudy di Bandung sebenarnya tidak mulus-mulus amat. Awalnya dia bersekolah di sekolah internasional. Namun, tidak lama. Sekolah tersebut tutup sehingga mengharuskan Rudy pindah ke sekolah peralihan. SMA Kristen Dago jadi pilihan Rudy.

Karena kendala bahasa, Rudy terpaksa keluar dari sekolah tersebut. Dia harus turun kelas ke SMP, yaitu SMP 5. Di sana, dia harus meningkatkan kemampuan memperlancar bahasa Indonesia-nya. Kala itu, Rudy memang terbiasa berbahasa Belanda dan sangat jarang berbahasa Indonesia.

Lulus dari SMP 5, Rudy kembali ke SMAK Dago. Di sekolah itu juga Rudy bertemu dengan Hasri Ainun Besari yang menjadi cinta sejatinya kelak. Layaknya remaja pada umumya, Rudy juga mengalami jatuh cinta serta masa-masa kenakalan remaja. Bukan Ainun yang pertama dipacari Rudy saat SMA, melainkan Farida. Gadis blasteran Belanda-Manado.

Soal kenakalan remaja, Rudy juga sempat mengalaminya. Dia pernah menggoda guru matematikanya hingga guru itu melayangkan penghapus papan tulis ke arah Rudy. Kendati nakal, Rudy tetap pandai untuk urusan pe­lajaran. Terutama bidang eksakta.

“Kenapa saya pintar? Saya selalu fokus dalam setiap hal yang saya kerjakan. Saya akan mencari jawaban dan solusi atas semua masalah yang saya hadapi sampai sedetail-detailnya,” jelas Habibie.

Kegeniusan Rudy di bidang ilmu eksakta mengantarnya untuk kuliah di Jurusan Elektro Arus Rendah Fakultas Teknik Universitas Indonesia atau yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB). Enam bulan kuliah, Rudy berangkat ke Jerman untuk kuliah penerbangan di Universitas Teknologi Rhein Westfalen, Aachen, Jerman.

Proses kepergiannya ke Jerman itu pun terbilang singkat. Keinginan kuliah di Jerman muncul setelah Rudy tidak sengaja berpapasan dengan teman SMA-nya, Lim Keng Kie, yang baru saja pulang setelah mengambil visa di Kedutaan Besar Jerman. Keng Kie kemudian bercerita tentang rencananya belajar penerbangan di Jerman dengan beasiswa. “Ik ga met jou mee! Saya ikut dengan kamu,” teriak Rudy penuh semangat.

Keinginan Rudy itu bukan sekadar keinginan. Dia menjadikan keinginan itu sebagai cita-cita yang harus dikejar. Sayang, pendaftaran beasiswa yang diikuti Keng Kie sudah tutup. Rudy pun mencari berbagai informasi tentang perkuliahan di Jerman. Setelah informasi terebut lengkap, dia meminta izin kepada Tuti untuk mengikuti tes.

Lazimnya, yang mengikuti tes tersebut adalah mahasiswa tingkat dua. Rudy yang baru tiga bulan kuliah sempat dipandang sebelah mata saat mengikuti tes itu. Namun, ternyata dia berhasil mendapatkan nilai tinggi. Berbekal nilai bagus, Rudy mendatangi para profesor untuk meminta rekomendasi. Setelah mendapat rekomendasi, dia langsung mendatangi dinas pendidikan untuk mengurus persyaratan kuliah di Jerman.

Menurut pegawai dinas pendidikan, Rudy sudah tidak bisa mendaftar beasiswa ke Jerman karena memang sudah ditutup. Namun, ada cara lain agar dia bisa tetap kuliah di Jerman. Yakni, membiayai sendiri keberangkatan, perkuliahan, dan kebutuhan hidup. Untuk biaya hidup saja, Rudy butuh 375 Deutsche mark (DM).

Rudy bergegas pulang dan bercerita kepada Tuti. Tanpa pikir panjang, Tuti langsung setuju. Masalah uang, dia akan berusaha mendapatkannya melalui usaha yang dijalaninya. “Apalagi Mami sudah terikat janji. Bahwa beliau akan memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya dengan tangannya sendiri. Tidak dengan bantuan siapa pun, termasuk beasiswa.”

Akhirnya, berangkatlah Rudy ke Jerman. Dia menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia berpaspor hijau saat itu. Mahasiswa lain yang berangkat dengan beasiswa memegang paspor biru alias paspor dinas. Rudy pun terbang ke Jerman. Memulai kehidupan baru sebagai calon orang besar. (Bersambung)

Tags

Tinggalkan Balasan