POLITIK

Heri Gunawan Bicara Blak-blakan Tentang Kinerjanya ke Warga Sukabumi

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Anggota DPR RI Komisi XI Heri Gunawan menyampaikan laporan kinerja kepada masyarakat Sukabumi yang merupakan dapilnya, dapil jabar IV. Menurut dia, kampanye politik para calon legislator merupakan hal yang terpenting dalam menentukan masa depan daerah dan bangsa.

Kenyataannya, lanjut pria yang akrab disapa HG itu, sebagian besar rakyat tidak lagi memandang penting kampanye bahkan pemilu itu sendiri karena dianggap tidak lebih dari sekedar rutinitas lima tahunan belaka yang belum pasti akan memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kehidupan mereka.

“Terjadinya penurunan secara beruntun partisipasi masyarakat dalam setiap gelaran pemilu di era Reformasi merupakan bukti konkretnya. Bahkan, dalam konteks pilkada, di beberapa daerah jumlah suara golput justru lebih besar daripada suara kemenangan pasangan calon,” kata Heri Gunawan kepada Radarsukabumi.com, Senin (19/8/2019).

Menurut politisi partai Gerindra itu, alasan mendasar yang melatarbelakangi munculnya kekecewaan masyarakat tersebut akibat janji pemilu yang tak kunjung pernah menjadi kenyataan. Rakyat mulai sadar dan merasa hanya dibutuhkan suaranya saat pemilu, selanjutnya diabaikan ketika kekuasaan telah tercapai.

“Janji kampanye para kontestan pemilu seolah-olah hanya menjadi pemanis bibir semata untuk mengelabui rakyat agar tertarik memilih dirinya padahal dari semula janji tersebut (mungkin) telah direncanakan untuk tidak dipenuhi. Maka tidak heran bila sebagian besar rakyat menganggap janji politik sangat identik dengan kebohongan. Pemilu di mata rakyat tidak lebih dari sekadar sebuah ajang tempat orang memberikan janji-janji untuk diingkari,” ujarnya.

Akibatnya, jelas HG, demokrasi perwakilan di Indonesia khususnya di Sukabumi saat ini mengalami masalah disconnected electoral yaitu adanya keterputusan relasi antara wakil dengan yang diwakili. “Sehingga seringkali tindakan yang dilakukan oleh para wakil tidak linier dengan apa yang menjadi aspirasi dan keinginan dari orang-orang yang diwakili,” paparnya.

HG pun menjelaskan bahwa penyebab munculnya persoalan tersebut disebabkan antara lain ditopang oleh semakin berkembangnya sikap rasional para pemilih terutama ‘rasional secara materi’. Implikasinya pemilih pragmatis menjadi lebih meluas sehingga perilaku pemilih cenderung mengarah pada munculnya “transaksi material” yang bercorak jangka pendek dan sesaat, bukan pada “transaksi kebijakan” antara para wakil dengan terwakil.

“Setidaknya ada dua arti penting janji politik. Pertama,mencerminkan visi dan misi seorang calon politisi yang akan memberikan arah dan panduan yang jelas bagi dirinya dalam mencapai sasaran yang hendak diraih bila kelak diberi amanah menduduki jabatan publik,” bebernya.

Kedua, lanjut HG, janji politik adalah dasar bagi pertanggungjawaban pelaksanaan kekuasaan yang demokratis. Tanpa janji, seorang calon pemimpin akan sangat sulit untuk dinilai berhasil tidaknya atas kepemimpinannya kelak.

HG mengatakan, pemilu sebagai kontrak sosial tentulah menjamin hak dan kewajiban pemilih di satu pihak dan hak serta kewajiban para pemimpin di pihak lainnya. Hak pemilih ialah berdaulat menentukan pilihan yang dioperasikan melalui kebebasan menentukan pilihannya atau tidak memilih siapa pun dan merahasiakannya.

Imbangan terhadap hak itu adalah kewajiban, kata dia lagi, berupa menjatuhkan pilihan kepada calon yang tepat secara benar berdasar pertimbangan bahwa hasilnya akan mendatangkan faedah bagi diri, golongan, masyarakat dan negara. Sebaliknya, para kandidat dalam pemilu berhak mendapatkan suara pemilih sebanyak mungkin, sebagai syarat untuk memperoleh posisi kekuasaan yang diingini dan diincarnya.

“Dengan demikian, secara moral, janji adalah sesuatu yang seharusnya secara sungguh-sungguh dipegang untuk kemudian direalisasikan menjadi kenyataan,” sebutnya.

Maka, ungkap HG, janji kampanye akan benar-benar menjadi rujukan utama bagi rakyat dalam menentukan pilihannya dalam pemilu dalam rangka menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Hanya dengan cara demikian, pemilu di Indonesia tidak hanya akan menghasilkan demokrasi prosedural tetapi juga demokrasi substantif.

“Di tangan wakil rakyatlah aspirasi rakyat diperjuangkan. Untuk itu saya berpesan kepada rekan-rekan kader Partai Gerindra yang telah dilantik dan ataupun yang terpilih sebagai wakil rakyat untuk menjalankan amanat dengan penuh kesungguhan sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan pada masa kampanye.Jangan pernah bermain-main dengan amanat rakyat. Kita berasal dari rakyat, tetap setia berjuang bersama rakyat, untuk Sukabumi Lebih Baik, Adil Makmur Sejahtera,” pungkasnya.

(izo/rs)

Tags

Tinggalkan Balasan