Catatan Hazairin SitepuSUKABUMI

Mencari Guru yang Hilang 2

Oleh Hazairin Sitepu

RADARSUKABUMI.com – Dari Malang kami melanjutkan misi ke Tulungagung. Mencari Pak Iksan Anwar. Guru matematika dan IPA. Kabarnya rumah beliau di Desa Sanggarahan, Kecamatan Boyolangu.

Sudah dapat kabar memang dari Pak Syifa’i (tentang Pak Syifa’i baca tulisan seri 1) bahwa pembina pramuka itu sudah meninggal dunia menjelang masa pensiunnya. Sudah lebih dari 15 tahun yang lalu. Tapi tidak apa-apa. Paling tidak bisa bertemu keluarganya.

Menghabiskan waktu kira-kira empat jam. Melewati kota dan kabupaten Blitar. Kami pun tiba di rumah almarhum pukul 21:00. Sangat mudah menemukan alamatnya. Sama seperti Pak Syifa’i, rumah Pak Iksan adanya di pinggir jalan raya.

Pintu masih terbuka lebar. Kemungkinan masih menunggu tamu berlebaran. Banyak kue dalam beberapa toples tampak memenuhi meja tamu. Semula kami dikira tamu dari desa setempat yang hendak berlebaran.

Ibu Iksan yang muncul dari ruang tengah raut wajahnya tampak menaruh curiga. Tidak menjemput ke depan pintu. Dan hanya berdiri di ruang tamu. Kemungkinan melihat tampang kami yang bukan Jawa.

Saya sok akrab saja. Langsung masuk ke ruang tamu. Dan langsung menyalami perempuan yang sedang mematung itu. Begitu memperkenalkan diri, Ibu Iksan terperanjat. Suaranya langsung membesar.

“Subhanallaah. Ini kamong dari mana. Kong bisa sampe ka sini. Maaf tadi beta seng kanal kamong. Barang su lama,” kata Bu Iksan dengan dialek Ambon yang kental. (Subhanallah. Ini kalian dari mana. Kok bisa sampai ke sini. Maaf tadi saya tidak kenal. Karena sudah lama sekali).

Suasana pun berubah total. Dari semula dianggap tamu yang mencurigakan, menjadi seperti keluarga yang dirindukan. Ibu Iksan pun memanggil Brilian Nina Agustin, putri semata wayangnya. Juga Mirza Adnan Hafiyan, suami Nina. Kami pun diperkenalkan.

Hampir satu jam kami ngobrol tentang Pak Iksan. Juga tentang masa-masa di PGA Tulehu. Masa-masa sulit tetapi menyenangkan. Misalnya, hampir tiap sore kami harus turun ke Tulehu. Rame-rame. Jalan kaki. Bawa ciregen. Ambil air. Juga mandi di Sungai Wai Latu. Paling rame kalau Sabtu sore.

Kampus PGA terletak di dataran tinggi Tulehu. Kira-kira 2,5 atau tiga kilometer dari pusat Desa Tulehu. Pikul air satu ciregen 10 liter atau 20 liter dari Tulehu ke kampus. Lumayan. Apalagi kalau ada titipan ciregen dari cewek-cewek di Al-Hamra (asrama putri). Sampai di kampus basah lagi. Mandi keringat.

Sulit tetapi menyenangkan bila cewek-cewek Al-Hamra ikut serta dalam rombongan pasukan ciregen. Agak malam tiba di kampus pun tidak mengapa. Asal sebelum pintu pagar kampus dikunci.

Tetapi saya harus tiba di masjid kampus sebelum magrib. Resiko sebagai seksi dakwah, mengecek jadwal latihan dakwah sehabis magrib. Pak Syifa’i adalah guru pembimbingnya. Dia tidak pernah absen salat magrib di masjid. Bila tidak ada jadwal dakwah, maka kami belajar menghafal Al-Quran, sambil menunggu waktu isya.

Kita memang tidak bertemu dengan Pak Iksan. Guru yang rambutnya selalu disisir rapi itu sudah meninggal dunia 15 tahaun yang lalu. Tetapi suasana malam itu menggambarkan betapa kami menyayangi guru matematika itu. Semoga Allah menganugerahkan kemuliaan dan menerima beliau sebagai hamba yang saleh.

Allahummagfirlahu. Warhamhu… **

Tags

Tinggalkan Balasan