Dinas Pertanian

Petani Bengkuang Rugi

KEBONPEDES, RADARSUKABUMI.com – Peralihan cuaca dari musim hujan ke musin kemarau menyababkan petani bengkuang di Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes mengalami kerugian akibat serangan hama ulat. Hasil panennya pun turun drastis.

Bahkan saat ini, banyak petani yang melakukan panen dini agar bisa tetap mendapatkan hasil.

Seorang petani bengkuang di Kampung Kebonpedes, Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Edi (48) mengatakan, sudah sepekan ini ia dan petani bengkuang terpaksa panen buah bengkuang meskipun bukan waktunya.

Hal ini karena hama ulat menyebabkan daun tanamannya mengering.

“Kalau tidak segera dipanen, pasti banyak tanaman yang mati. Makanya kami terpaksa memanen buah bengkuang, meksipun belum pada waktunya,” jelas Edi kepada Radar Sukabumi seraya memperlihatkan buah bengkuah hasil panen raya bulan ini, kemarin (17/6).

Hasil panen bengkuang saat ini, sambung Edi, mengalami penurunan sekitar 60 persen dibanding dengan penen raya sebelumnya.

“Serangan hama ulat ini sering menyebabkan daun buah bengkuang mengering. Bahkan jika tidak diberikan obat, dapat menyebabkan tanaman bengkuang mati sebelum dipanen. Selain itu, serangan hama ini juga menyebabkan buah bengkuang mengecil,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan, Salman (45), warga Kampung Kebonpedes, Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes. Menurutnya, saat ini seluruh petani bengkuang di wilayah Desa Jambenenggang mengalami kerugian, lantaran hasil panennya mengalami penurunan.

“Dari satu liter bibit buah bengkuang yang ditanam di lahan seluas 4 are, biasanya menghasilkan 1 ton sampai 1,3 ton. Namun karena banyak diserang hama, hasil panennya menurun sekitar 4 sampai 5 kwintal,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi serangan hama ulat ini, ujar Salman, petani sering menyemprotkan obat pestisida untuk memberantas hama tersebut.

Namun upaya mereka tidak berhasil maksimal.

“Panen raya buah bengkuang saat ini sangat merugi. Terlebih lagi, hasil panennya selain dari bentuknya yang kecil, banyak juga yang tumbuh tidak maksimal sehingga tidak berisi. Ya, bila dibandingkan pada tahun kemarin yang buahnya besar,” tandasnya.

Hasil panen petani bengkuang di Kampung Kebonpedes, Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes musim panen ini tidak maksimal akibat serangan ulat.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi, Ajat Sudrajat mengatakan, serangan hama ulat ini, memang perlu diwaspadai oleh petani. Karena jika tidak segera diantisipasi, maka produksi hasil pertaniannya bisa turun drastis.

“Sebab itu, saya meminta kepada petani untuk melakukan pengamatan secara intensif terhadap tanamannya. Dengan begitu, petani bisa mendeteksi dini adanya serangan hama. Jadi ketika ada hama bisa segera dilakukan tindakan,” jelasnya.

Mengantisipasi serangan hama ulat, ujar Ajat, petani disarankan selain harus menyemprotkan obat pembasmi hama juga harus melakukan penanganan secara intensif supaya hama ulat tersebut tidak berkembang dan menyerang tanaman lainnya.

Seperti area perkebunannya harus bersih dan tidak ada ilalangnya.

“Selain itu, petani juga disarankan agar beralih ke tanaman lain. Seperti mentimun dan jagung. Jadi, dalam kurun waktu satu tahun ini, petani tidak menanam buah bengkuang saja, tetapi beralih ke tanaman jenis palawija lainnya,” pungkasnya.

(Den/d)

Tags

Tinggalkan Balasan