ARTIKEL

Tetap Istiqomah Pacsa Ramadhan

Oleh: Boby es-Syawal el-Iskandar
(Takmir Masjid Al-Ikhlas Pemkot Sukabumi)

Ramadhan yang penuh berkah telah berlalu dari hadapan kita semua. Ia pergi bersama hari-harinya yang indah, dan malam-malamnya yang semerbak. Kita telah berpisah dengan bulan Alquran, bulan penuh ketaqwaan, bulan pengasah kesabaran, bulan jihad, bulan kasih sayang, bulan ampunan dan bu8lan keselamatan dari api neraka.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi disebutkan bahwa Rasul Saw bersabda: “Betapa rugi orang yang setelah Ramadhan berlalu, tapi dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah SWT.”

Kenapa bisa rugi? Bukankah kita telah berpuasa selama sebulan lamanya? Kenapa dosa-dosa kita tidak terampuni setelah Ramadhan berlalu? Bukankah kita tidak hanya telah berpuasa di siang hari Ramadhan, tetapi kita juga telah melaksanakan qiyam pada malam harinya. Bahkan kita masih menambahnya dengan tadarus Alquran, i’tikaf, zakat, infaq dan sedekah selama Ramadhan?

Jawabannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Ahmad yang artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.”

Puasa kita tidak serius. Puasa kita tidak sungguh-sungguh, sehingga puasa yang telah kita lakoni tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah Swt dan tidak bisa memberikan dampak baik kepada diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain.

Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, ia akan mencegah dirinya dari segala macam perbuatan tercela seperti mengumbar syahwat, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, riya, zhalim kepada pihak lain, dan lain sebagainya. Tanpa itu, puasa yang kita jalani mungkin sah secara fiqh, tapi belum tentu berharga di mata Allah Swt.

Karenanya, Syekh Abdul Qodir Jaelani dalam kitabnya “Sirrul Asrar” membagi puasa pada dua kategori. Pertama puasa syariat, yaitu puasa yang hanya sebatas cukup atau terpenuhinya syarat, rukun dan sunahnya. Yang dibatasi waktunya, tidak lebih dari 29-30 hari pada bulan ramadhan. Yang kedua adalah puasa tarekat, yaitu puasa lahir batin, tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus serta bersenggama di siang hari ramadhan, tetapi juga menahan diri dari segala hawa nafsu yang merusak atau destruktif.

Inilah puasa yang bernilai, yang bahkan dengan puasa batin tinggal mengenal batas waktu seperti halnya puasa syariat. Puasa batin adalah puasa unlimited, puasa yang tidak berujung hingga ajal menjemput. Dalam istilah lain, puasa tarekat dikenal juga dengan puasa khowas bil khowas.

Lalu, bagaimana kita bisa menakar nilai puasa kita?

Kalau kita mau mengambil perumpamaan untuk dicontoh, maka puasanya ulat adalah contoh terbaik, bukan puasanya ular. Untuk bisa “kembali gagah”, ular biasa melakoni puasa agar bisa berganti kulit. Tapi setelah itu tidak ada yang berubah dari seekor ular. Namanya tetap ular. Tampang dan bentuknya masih seperti dulu. Cara jalannya juga masih sama, merayap. Makanannya masih masih itu-itu saja. Bahkan sifat dan kelakuannya sama sekali tidak berubah. Ular tetap binatang berbisa, yang sewaktu-waktu bisa membuat kita celaka bahkan mematikan.

Berbeda dengan ulat. Agar bisa “meraih taqwa”, ulat harus menjalani puasa antara 7 hingga 40 hari, tergantung pada jenis ulatnya. Dengan berpuasa, ulat secara cepat mengalami perubahan-perubahan yang signifikan pada dirinya, terstruktur, sistematis dan masif.

Di tengah-tengah tapanya (saat masa metamorfosis), namanya segera berubah menjadi kepompong. Usai puasa, julukannya berganti menjadi kupu-kupu. Tampang dan bentuknya jauh lebih cantik dari keadaan semula. Cara jalannya yang dulu merayap dengan otot tubuhnya, kini terbang dengan sayap indahnya.

Pilihan makannya pun pindah, dari dedaunan kepada naktar, madu yang ada pada putik sari bunga. Sifdat dan kelakuannya? Subhanallah… kupu-kupu hobi membantu proses penyerbukan paling sempurna pada bunga. Pertanyaan sekarang, puasa yang telah kita lakukan itu masuk model yang mana? Apakah masuk kategori puasanya ular atau ulat? Hanya kita sendiri yang mampu memberi jawaban.

Kalau ulat saja yang oleh Sang Pencipta hanya diberi insting dalam menjalani kehidupannya. Tapi dengan kesungguhan dan keyakinannya kepada Sang Maha Raja, akhirnya ia mampu menggapai posisi “taqwa”, yaitu menjadi makhluk yang terlahir baru berupa kupu-kupu nan indah. Berubah seratus persen dari wujud asalnya yang kadang menjijikan bagi sebagian orang, berubah menjadi pigur yang disukai banyak orang.

Sedangkan kita sebagai manusia, yang oleh Allah diberi kelengkapan lebih dari sekedar insting, yaitu adanya hati, akal dan pikiran bahkan iman. Sudah seharusnya lebih mampu lagi untuk merubah diri kepada pribadi yang lebih baik lagi.

Karena esensi dari berpuasa sejatinya adalah agar kita bisa melatih jiwa, pikiran, dan raga untuk bisa menahan diri (imsak) tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari hawa nafsu yang merusak, destruktif.

Seyogyanya, setelah kita menjalani puasa selama sebulan penuh, artinya kita telah berhasil melatih diri dari godaan hawa nafsu. Sehingga, dengan berpuasa segala kotoran badaniyah kita dikuras, dilunturkan, dibersihkan. Dan pada saatnya, kita kembali dalam kondisi yang bersih, suci tanpa noda dan dosa, kembali fitri.

Memakai istilah kaum millenial, lebaran yang telah kita rayakan bersama adalah momentum untuk “move-on” untuk bisa bergeser dan berubah. Dari sesuatu yang kurang baik atau biasa saja, menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih bermakna. Sedangkan dalam bahasa politik kekinian, lebaran sejatinya menjadi momen untuk “move-on” antar tokoh politik di tanah air. Lebaran harus mampu menjadi jembatan rekonsiliasi antar pihak-pihak yang berbeda pandangan bahkan pilihan dan kepentingan saat hajat pilpres yang lalu.

Kini saatnya kita saling berangkulan, mengulurkan tangan saling meraih penuh cinta dan kasih sayang sayang. Karena sejatinya, kita lahir dari “rahim” yang sama, yaitu rahim ibu pertiwi yang berwujud NKRI. Sekali pun kita berbeda dalam banyak hal, maka sesungguhnya perbedaan itu harus menjadi sumber utama dalam mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.

Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu jua. Karena perbedaan juga adalah fitrah dari Sang Maha Pencipta, yang dengannya kita bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran. Bila hal ini bisa kita sepakati, maka mari kita singkirkan segala karat di hati, lantas mari murnikan diri kita sebagai manusia yang terlahir kembali.

Mari lanjutkan segala tradisi baik ubudiyah kita selama bulan Ramadhan. Karena Ramadhan telah memberikan banyak pelajaran berharga buat kita semua. Ramadhan mengajarkan kepada tentang arti kejujuran. Ramadhan melatih kita tentang arti pentingnya sebuah kedisiplinan. Ramadhan mengajak kepada untuk menjadi pribadi-pribadi santun yang memiliki kepekaan sosial. Ramadhan mendidik kita agar tidak pernah lepas dari persatuan.

Dan apa yang harus kita lakukan agar tetap bisa istiqomah selepas ramadhan? Pertama, selalu berdoa karena itiqomah itu adalah hidayah dari Allah. Kedua berusaha menjaga keikhlasan dalam beribadah. Ketiga, biasakan rutin beramal walau sedikit, apa pun bentuknya. Keempat, biasakan diri untuk muhasabah, mengoreksi diri sendiri, bukan malah mengorek-ngorek kesalahan dan kekurangan orang lain. Kelima, carilah teman yang shalih, yang senantiasa mengingatkan kita kepada kebaikan.

Akhirnya, selamat menyambut kebersihan jiwa, pikiran dan raga untuk seluruh elemen bangsa tercinta ini. Semoga kita semua senantiasa dalam kesehatan dan kebahagiaan, ikhlas dalam menjalani kehidupan dengan penuh syukur kepada Sang Maha Pencipta. Wallahu’alamu bish-shawab.*

Tags

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close