CIANJURWISATA

Meskipun Sempat Longsor, Gunung Padang Tetap Menjadi Pilihan Wisatawan

CIANJUR, RADARSUKABUMI.com – Meski sempat terjadi longsor, namun obyek wisata Situs Megalitikum Gunung Padang tetap menjadi salah satu incaran para wisatawan untuk berlibur sepanjang liburan lebaran.

Selain wisatawan dari Cianjur dan domestik, tak sedikit pula wisatawan asing yang berkunjung ke objek wisata yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO ini.

Koordinator juru pelihara Gunung Padang, Nanang (45) mengatakan, pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung ke Gunung Padang per harinya hanya mencapai lebih kurang 300 orang.

Namun selama liburan Lebaran, terhitung sejak H+1, jumlah kunjungan wisatawan ke Gunung Padang meningkat drastis hingga empat kali lipat lebih.

“Biasanya per hari hanya 300 orang. Selama liburan ini, jumlah wisawatan meningkat lebih dari empat kali lipat. Bisa sampai 1.200 orang,” tutur Nanang.

Jika dikalkulasikan, lanjut Nanang, jumlah wisatawan yang mendatangi situs bersejarah sejak H+1 sampai dengan Selasa (11/6) kemarin, jumlah kunjungan mencapai 7.000 lebih.

Ia menambahkan sebagian besar wisatawan yang datang ke Gunung Padang adalah rombongan keluarga, dan berasal dari berbagai kota di Jawa Barat.

“Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ini bisa mendongkrak kunjungan wisatawan untuk datang ke Cianjur,” katanya.

Banyaknya wisatawan yang memilih berlibur ke Gunung Padang itu sendiri, lanjutnya, juga dikarenakan harga tiket masuk yang cukup murah, yakni Rp5.000 saja.

Sedangkan seluruh hasil penjualan tiket tersebut, sepenuhnya menjadi penghasilan Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka.

“Hasil penjualan tiket ini sebagian disisihkan untuk biaya kebersihan dan pemeliharaan situs,” katanya.

Sementara, longsor yang terjadi di area situs kebanggan Cianjur itu, sebut Nanang, sama sekali tak mempengaruhi kunjungan wisawatan. Kendati, jarak longsor berada sekitar 100 meter dari situs.

Longsor dimaksud, kata Nanang, adalah tebing yang tergerus aliran sungai kecil yang ada di bawahnya. “Longsor terjadi di lereng timur dengan lebar 30 meter dan panjang 67 meter,” beber Nanang.

Kendati longsor, lanjutnya, pihaknya memastikan tak ada batu-batu situs Gunung Padang yang terbawa longsor karena Balai Besar Cagar Budaya dan Kepurbakalaan langsung melakukan pencegahan longsoran dengan mematok bambu sistem terasering.

Nanang menduga longsoran terjadi karena ada saluran air di bawah lereng timur yang menggerus tebing. “Pengunjung tak perlu khawatir karena lokasi longsoran memang berada di sebelah timur dan saat ini sudah dilakukan pencegahan dan perbaikan,” jelas Nanang.

Ia memaparkan, bencana longsor memang tak bisa dilihat dari jalur pendakian pengunjung karena berada di sisi lereng timur. “Pengunjung juga tak akan terganggu dan kebanyakan tak mengetahui adanya longsor,” tuturnya.

Nanang menambahkan, longsor kali ini terbilang tak mengganggu dan tak sebesar longsor yang terjadi beberapa tahun lalu. “Kalau longsor yang sudah lama memang membawa batu, tapi yang sekarang enggak,” paparnya.

Menurutnya, longsor lereng timur juga bukan akibat dari proses eksavasi beberapa waktu lalu karena posisinya cukup jauh dari lokasi tersebut. Longsor ini bukan karena eskavasi, tapi ini karena memang tebingnya yang curam, di bawahnya tergerus air,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan