Catatan Hazairin Sitepu

Reuni Alumni PGA Ambon

Oleh Hazairin Sitepu

Alumni Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Ambon 7-8 Juni, untuk pertama kali, mengadakan reuni.

Mereka menyebutnya reuni akbar, meski yang hadir kurang dari 200 orang. Reuni itu dilaksanakan di aula Madrasah Aliah Negeri (MAN) 1 di Tulehu, Maluku Tengah.

Hadir alumni mulai tahun 1974 sampai dengan 1992. Datang dari berbagai daerah di Maluku, Maluku Utara. Ada pula dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Mereka rata-rata para guru Agama Islam di berbagai SD, SMP, juga guru madrasah, para pejabat fungsional dan struktural pemerintah.

Tampak pula pembantu dekan dari IAIN Parepare, beberapa dekan dan wakil rektor di IAIN Ambon.

Juga hadir bekas rektor IAIN Ternate, para pensiunan, dan pengusaha.
Meski dihadiri kurang dari 200 orang, reuni kemaren sesunghuhnya tetap akbar.

Karena ukurannya tidak semata atas berapa orang yang hadir, tetapi lebih pada peran dan kontribusi alumni PGA itu kepada bangsa dan negara yang sangat besar.

Sejak tahun 70-an sampai dengan saat ini, ribuan alumninya terus berdiri di depan kelas, di ribuan sekolah, di ribuan desa,
membimbing murid-muridnya menjadi manusia Indonesia yang memiliki kualitas. Tidak saja intelektual, ahlak, tetapi juga kualitas keberadaban.

Mereka mengajarkan Islam sebagai agama ilahiah, agama yang cinta kedamaian, menghargai perbedaan dan hak-hak sosial sesama manusia. Agama yang rahmatalli’alamin.

Tetapi alumni PGAN Ambon juga ternyata ada yang menjadi pengusaha.

Lembaga PGA saat ini memang sudah tidak ada. Sejak tahun 1992. Termasuk PGA Negeri Ambon. Semua fasilitasnya pun telah menjadi milik MAN. Tetapi alumninya terus memberi peran.

Kira-kira lima atau enam tahun lagi semua alumninya sudah pensiun. Lalu siapa yang akan menggantikan mereka? Lembaga apa yang diberi tugas sebagai pengganti PGA? IAIN kah?.

Dalam hal guru agama Islam di SD setelah semua alumni PGA pensiun, Departemen Agama mestinya lebih memberi peran kepada IAIN untuk menghasilkan guru (agama) dengan kompetensi keguruan dan kependidikan minimal setara diploma tiga.

Universitas-universitas tertentu dan IKIP saat ini terus mengembangkan jurusan khusus pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). Sehingga ketersediaan guru umum di SD selalu ada.

Departemen Agama semestinya juga mengembangkan hal yang sama. Tidak harus membuat lembaga baru. Tetapi, sekali lagi, cukup memberi tugas IAN. Mungkin tidak harus fakultas, tetapi cukup jurusan atau program studi. Sehingga guru agama Islam di SD dan guru-guru madrasah dapat terus tersedia.

Reuni kemaren itu memang bukan saja acara temu kangen atau untuk mengenang suka-duka alumni sewaktu sekolah, tetapi juga nengaktualisasikan pesan bahwa betapa
PGA Negeri Ambon telah memberikan kontribusi sangat besar bagi bangsa dan negara. Kontribusi menaikkan kualitas manusia, terutama di Maluku. (*)

Tags

Tinggalkan Balasan