Bisnis

Gandeng Startup, Omzet Bisnis Kuliner Melonjak

JAKARTA, RADARSUKABUMI.com – Bisnis kuliner memasuki era booming beberapa tahun ini, setelah menjalin kerjasama dengan berbagai startup digital. Pengembangan teknologi digital yang semakin pesat tidak saja memudahkan konsumen dalam hal pembelian, tapi juga mampu menekan harga makanan menjadi lebih murah.

“Bisnis kuliner paling diuntungkan dengan adanya digitalisasi. Pengembangan teknologi online seperti Go-Food membuat pasar kita menjadi lebih luas, menjangkau semua wilayah. Meskipun tokonya di Jakarta Pusat, yang beli bisa dari Jakarta Utara atau Jakarta Timur. Jualan tidak lagi tergantung dari kapasitas tempat duduk, bisa take away atau delivery,” ujar Owner dan Founder Bakso Kemon Michael Marvy Jonathan, Jumat (17/5).

Berkembangnya media sosial (medsos, Red) juga sangat membantu pengusaha kuliner dalam hal berpromosi. Dulu mereka hanya bisa melakukan promosi secara organik melalui brosur sehingga bisnisnya berkembang cukup lamban. “Sekarang tersedia berbagai chanel promosi melalui media sosial. Bisa instagram, Facebook dan lain-lain. Hanya saja kita harus lebih kreatif mengemasnya supaya mudah terekspos ke masyarakat,” tuturnya.

Tidak cukup hanya itu, perkembangan dunia digital di bidang keuangan juga memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi bisnis kuliner. Penetrasi teknologi dompet digital seperti Go-Pay, DANA, atau OVO mendorong kerjasama yang saling menguntungkan dengan para pengusaha kuliner. “Teknologi pembayaran membuat harga makanan semakin terjangkau. Mereka bersedia sharing diskon buat pelanggan. Kami untung, mereka juga diuntungkan,” ungkapnya.

Dia berharap bisa terus bekerjasama yang baik dengan startup digital yang berkontribusi positif ke omzet kuliner. Sebagai contoh, GoFood menyumbang omzet sekitar 10-15 persen omzet Bakso Kemon. Dia berusaha naikkan menjadi 30 persen dengan memperbanyak promo kerjasama seperti free ongkir. “Saat ini adalah momen yang tepat bagi investor yang ingin masuk ke bisnis kuliner. Seandainya kita peselancar, ombaknya sedang bagus-bagusnya,” kata Marvy.

Co-founder Bakso Kemon Martin Sunu menambahkan, layanan digital membuat pelaku bisnis kuliner lebih berani berkespansi. Seperti halnya Bakso Kemon yang kini sudah memiliki 10 outlet cabang sejak buka pertama kali pada Agustus 2017 lalu. Selain membuka outlet-outlet baru dengan modal sendiri, Bakso Kemon juga berekspansi dengan menggandeng mitra-mitra lokal.

“Sekarang lima outlet milik sendiri dan lima outlet lainnya kerjasama kemitraan. Rencana tahun ini tambah sepuluh outlet lagi,” sebutnya.

Bakso Kemon sengaja tidak membuka outlet di dalam mal karena mengejar volume penjualan dan membutuhkan tempat yang luas. Harga semangkuk bakso yang ditawarkan Bakso Kemon sangat terjangkau bagi berbagai kalangan baik anak sekolahan, mahasiswa, ataupun keluarga. “Harga rata-rata antara Rp15 ribu hingga Rp45 ribu. Tersedia berbagai macam menu seperti bakso urat, bakso sumsum, bakso iga, bakso telor dan lain-lain. Bahkan selain kuah biasa, kami juga sedia kuah gulai,” kata Martin.

Bakso yang sedang tidak ingin makan bakso bisa memesan nasi goreng atau nasi ayam goreng. Untuk minuman yang menjadi favorit pengunjung selama ini adalah Es Kenduren (campuran es kelapa, cincu, dan duren). Banyak juga pengunjung yang menyukai Es Campur atau Es Mangga Serut. “Puasa seperti sekarang banyak yang bukber disini. Kalau yang tidak kebagiaj bukber, meskipun sebelumnya sudah makan besar bisa saja lanjut makan bakso,” pungkasnya.

(izo)

Tinggalkan Balasan