PILPRES 2019SUKABUMI

‘Panas’ Di Massa Injury Time

POLITIK SUKABUMI – Menjelang detik-detik hari pencoblosan, pertarungan dua kandidat Capres dan Cawapres baik pasangan 01 maupun 02, semakin sengit. Bahkan, pertarungan di Jawa Barat khususnya Kota dan Kabupaten Sukabumi mengalami pergeseran.

Dari hasil simulasi pencoblosan surat suara untuk Pilpres 2019 yang dilakukan Radar Sukabumi selama dua hari mulai dari Jumat, 22 Maret dan Sabtu, 23 Maret 2019, kekuatan dua calon mulai seimbang.

Padahal, berkaca hasil simulasi pada Februari lalu, selisih pasangan 01 dan 02 terpaut cukup jauh.

Dimana sebelumnya, untuk pasangan 01 mendapat suara 34,33 persen sedangkan pasangan 02 meraih suara 65,67 persen. Sedangkan pada simulasi terbaru dengan menggunakan 300 surat suara, selisihnya terpangkas.

Untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, meraih suara 42,69 persen. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno, meraih 57,31 persen.

Jangkauwan simulasi pun diperluas. Di Kabupaten Sukabumi misalnya, beberapa wilayah yang dijangkau meliputi Pelabuhanratu, Cikembar, Warungkiara, Bantargadung, Cisolok, Simpenan.

Selain itu, wilayah Cicurug, Cibadak, Sukaraja, Cisaat dan Kecamatan Sukabumi pun tak luput dari jangkauan simulasi. Ditambah lagi, untuk wilayah Kota Sukabumi hampir di tujuh kecamatan semuanya ‘diobok-obok’.

Sedangkan hasil simulasi Radar Bogor group pun menunjukan hasil yang sama. Meskipun pasangan Prabowo-Sandiaga Uno masih unggul, tapi selisihnya tak jauh berbeda.

Untuk pasangan 01, meraih 40,53 persen suara. Sedangkan pasangan 02, meraih 59,47 persen. Simulasi pun dilakukan serentak di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Diantaranya, Kabupaten/Kota Bogor, Kota Cimahi Kota Bandung, Kota/Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kota Depok, Kota & Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta.

Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Asep Deni menilai, mendekati hari pencoblosan pada 17 April ini pasti terjadi gerakan yang masif ditengah masyarakat.

Tentu saja gerakan itu sosialisasi yang dilakukan oleh paslon atau tim pemenangan di daerah. “Saat ini tingkat kehadiran dan kedatangan ke konsituen itu sangat berpengaruh, baik oleh tim maupun paslon. Tidak boleh istirahat, karena setiap detik pasti bergerak,” ujarnya.

Selain itu, diperlukan kepiawaian tim sukses dalam upaya mengkampanyekan dan menanamkan image kedua paslon tersebut. Tim mampu menawarkan harapan Indonesia yang lebih maju kedepannya.

Soalnya, saat ini masyarakat sudah mulai terbuka pemikirannya, tidak mudah termakan hoaks atau informasi keburukan seseorang. “Saat ini bagaimana program kedepan lebih jauh menarik yang ditawarkan oleh kedua tim pasangan ke tengah masyarakat,” lanjutnya.

Asep Deni menilai, disisa waktu ini akan terjadi perubahan suara. Akan tetapi, memang tidak akan terlalu siginfikan. Perubahan itu akan terjadi kepada pemilih massa mengambang atau swing votter.

Di Sukabumi sendiri, nampaknya jumlah suara mengambang itu tidak akan terlalu signifikan. “Dalam politik pergesaran itu pasti ada setiap saat. Sedangkan kebanyakan di Sukabumi ini merupakan pemilih fanatik.

Pemilih ini yang sudah tidak bisa berubah, apapun isuknya tetap masyarakat akan memilih pemimpinnya. Baik itu Jokowi atau Prabowo. Beda dengan masa mengambang, masih mungkin bergeser,” paparnya.

Di Jawa Barat ini termasuk Sukabumi, nampaknya suara pasangan 02 ini masih tetap kuat meskipun pasangan 01 sudah melakukan pembangunan seperti jalan tol Bocimi, rencana Double track dan Bandara.

Tentunya faktor yang mempengaruhi itu banyak, salah satunya faktor Gubernur terdahulu Ahmad Heryawan (Aher) yang memimpin selama dua periode.

Dimana, PKS dan Gerindra itu terus bersama-sama di Jabar. “Itu tentu berpengaruh kepada image pak Prabowo yang cukup bagus. Makanya Jabar ini relatif berat pertarungannya,” katanya.

Semantara itu Pengamat Politik lain, Yana Fajar lebih menyoroti upaya untuk menjaga kondusiftas menjelang masa pencoblosan ini. Perhelatan pilpres di Sukabumi ini harus tetap berjalan dengan kondusifitas menjaga situasi yang aman.

Artinya, jangan sampai tim kedua paslon ini mengunakan cara-cara yang bisa mengakibatkan gaduh di tengah masyarakat. “Saya pikir tidak boleh memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat, baik itu urusan pemahaman agama dan ketatanegaraan yang memunculkan pernyataan destruktif.

Misal kalau memilih pasangan 01 ke neraka dan pasangan 02 disiksa,” ujarnya.

Terjadi kondusifitas itu, sikap aparat berdasarkan Undang-undang dan konstitusi tidak boleh terlibat dalam satu pihak. Hal seperti itu yang bisa memicu kondusifitas, meksipun masyarakat Sukabumi ini terlihat silet mayority atau mayoritas diam.

“Tidak mungkin mereka iya iya saja mengikuti arahan dalam tanda kutip menekan. Tetapi jangan salah, itu bisa jadi perlawanan nanti di TPS,” ungkapnya.

Sementara itu menjelang akhir masa kampanye ini, tentunya perlu adanya gerakan-gerakan yang lebih intensif dan mengena terhadap masyarakat.

Harus ada strategi yang memang bisa dikemas sedemikian rupa agar bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Ya harus ada sentuhan-sentuhan yang memang bisa dirasakan masyarakat secara emosional dan meyakinkanmasyarakat dengan cara yang benar tidak menghancurkan,” katanya. (bal)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *