RS Betha Medika

Masalah Yang Sering Dihadapi Bayi Baru Lahir


Oleh : Dr. Firdha Triasurya Ramadhani
Dokter Umum RS Betha Medika

Kehadiran si kecil di tengah-tengah keluarga tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pasangan yang telah menantikannya. Mungkin Anda yang baru memiliki bayi, seolah tak bosan-bosan memandanginya.

Tapi di balik tubuh mungil menggemaskan itu, ada sistem kekebalan yang belum terbentuk sempurna. Tidak heran jika bayi Anda mudah terserang berbagai macam penyakit.

Karena itu, Anda perlu waspada dan senantiasa cermat memerhatikan kondisi si kecil. Berikut beberapa permasalahan kesehatan yang umumnya sering dialami bayi baru lahir, berikut ini:

Kebiruan pada tangan dan kaki

Kadang-kadang, warna kulit dan kuku tangan dan bayi terlihat lebih biru dibandingkan bagian tubuh lainnya. Kondisi ini normalnya diakibatkan oleh paparan suhu dingin. Jika suhu di sekitarnya menghangat atau bayi diselimuti, maka warna kulit akan kembali merah seperti semula.

Bayi yang menangis kencang juga dapat disertai kebiruan pada wajah dan bibirnya yang segera menghilang setelah ia tenang. Kondisi ini juga merupakan sesuatu yang normal dan sering kali tidak berhubungan dengan penyakit jantung bawaan.

Namun, jika bayi mengalami kebiruan pada bibir dan/ atau bagian tubuh lainnya disertai dengan sesak napas dan kesulitan menyusu, maka ada kemungkinan penyakit jantung bawaan yang harus segera dikonsultasikan lebih lanjut.

Batuk sehabis minum ASI atau susu formula

Batuk seperti ini dapat dialami saat bayi sangat bersemangat minum atau aliran ASI yang deras tidak diimbangi dengan kecepatan bayi menelan. Bayi yang baru mulai belajar menyusu juga kadang mengalami hal ini. Keadaan ini akan berkurang setelah bayi beristirahat sejenak, lalu melanjutkan lagi minumnya.

Lama-kelamaan kebiasaan ini menghilang siring bertambah usia, karena bayi sudah lebih terbiasa dengan pola minumnya. Jika bayi mengalami batuk yang tidak kunjung berhenti, menjadi sesak napas, atau muntah berulang sesudahnya, maka segera konsultasikan ke dokter.

Perut kembung. Umumnya, perut bayi terlihat lebih buncit dibandingkan dengan anak yang lebih besar jika dibandingkan dengan proporsi dadanya. Ini adalah kondisi yang normal. Perut teraba lunak dan cenderung lebih besar setelah minum ASI.

Kondisi yang abnormal atau tidak biasa adalah jika perut buncit/kembung disertai dengan tidak adanya buang air besar lebih dari dua hari dan muntah berulang. Perut juga teraba lebih keras.

Kondisi ini bisa jadi karena sesuatu yang ringan seperti konstipasi atau banyak udara, atau yang lebih serius seperti sumbatan di saluran pencernaan. Segera konsultasikan ke dokter.

Napas berbunyi “grok-grok”

Hidung dan paru-paru kecil bayi baru saja diperkenalkan dengan konsep menghirup udara. Di lingkungan yang kering dibandingkan dengan Rahim Ibu, dimana ia berada selama 9 bulan terakhir.

Bunyi grok-grok dan mendengus terjadi karena bayi bernapas hanya melalui hidung mereka. Hal ini juga yang memungkinkan mereka untuk menelan susu sambil bernapas secara bersamaan.

Bayi juga belum bisa meniup keluar lendir yang ada melalui hidungnya. Ini menyebabkan suara seperti dengusan dan bunyi seperti peluit saat ia bernapas.

Ketika lendir turun ke bagian belakang tenggorokan (faring), suara yang ditimbulkan akan berbunyi grok-grok. Lendir juga bisa bergerak lebih jauh ke kotak suara bayi (laring) dan saluran pernapasannya, yang membuat bunyi grok-grok tersebut seolah berasal dari paru-parunya. Seiring usia, ukuran saluran napas akan makin membesar dan kemampuan bayi dalam menelan ludah akan membaik.

Kuning pada Bayi

Kuning pada bayi baru lahir disebabkan oleh kadar bilirubin (biasanya bilirubin indirek) yang tinggi, akibat hati bayi yang belum mampu “membuang” bilirubin secara sempurna (saat masih berupa janin dalam kandungan, hati sang ibu yang membuang bilirubin bayi, tetapi setelah lahir, bayi harus melakukannya sendiri).

Kadarnya yang melebihi ambang normal akan memberikan warna kuning pada kulit dan bagian putih (konjungtiva) mata. Kondisi ini disebut jaundice atau ikterus.

Kadar bilirubin yang melebihi nilai normal membutuhkan terapi sinar (phototherapy). Keadaan itu disesuaikan oleh grafik yang dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics. Bila tidak teratasi dengan terapi ini, atau saat pemeriksaan awal kadarnya sangat tinggi, mungkin membutuhkan tranfusi tukar.

Menjemur bayi dengan tujuan untuk menurunkan kadar bilirubin sama sekali tidak efektif, dan tidak direkomendasikan karena kadar ultraviolet yang tidak terukur dan potensi kulit bayi terbakar sinar matahari.

Ini bukan berarti menjemur bayi adalah hal buruk. Menjemur bayi masih dianggap bermanfaat untuk membantu pembentukan provitamin D menjadi vitamin D, asalkan dilakukan antara jam 7 hingga 8 pagi, dan cukup selama 15 menit, serta tidak perlu dibuka bajunya

Gumoh atau Muntah

Gumoh (regurgitasi) terjadi akibat susu atau makanan yang bar saja diminum atau dimakan kembali dikeluarkan dari lambung. Hal itu akibat belum sempurnanya kerja katup yang membuka-tutup jalan antara esofagus dan lambung. Kondisi ini wajar ditemukan pada bayi dan akan berkurang hingga menghilang saat usia enak bulan- satu tahun.

Bedakan gumoh dengan muntah. Saat gumoh umumnya bayi tampak tidak menyadarinya dan jumlah susu/makanan yang dikeluarkan tidak sebanyak saat muntah.

Muntah adalah kejadian yang tidak nyaman pada bayi (nyeri) dan tampak usaha untuk mengeluarkan muntahannya sehingga sesudahnya bayi terlihat tidak nyaman.

Semoga bermanfaat artikel nya ya, jangan lupa share informasi ini kepada kerabat dan keluarga dirumah ya ?

Salam semakin sehat dari kami, keluarga besar RS Betha Medika.(*)

Tags

Tinggalkan Balasan