KABUPATEN SUKABUMISUKABUMI

Pengakuan Keluarga Korban Longsor Proyek Double Track

Sebelum Meninggal, Rifki Tak Mau Jauh Dari Ayahnya

RADARSUKABUMI.com, SUKABUMI – Bak disambar petir disiang bolong. Seperti itulah mungkin perasaan kedua orang tua Muhammad Rifki (10) warga Kampung Pakemitan, RT 1/4, Kelurahan/Kecamatan Cicurug yang meninggal dunia setelah tertimbun material longsor proyek double track Sukabumi-Bogor.

Keluarga pasangan Heri Supriadi (41) dan Nurhayati (37) tak menyangka bakal kehilangan anak bungsunya untuk selama-lamanya. Pihaknya mengaku, sebelum anak bungsunya tersebut meninggal, keluarga tak mendapatkan pirasat apapun. Namun, ia merasa ada yang aneh lantaran korban sehari sebelum meninggal tidak mau jauh dengan ayahnya.

“Dari Rabu (9/1) sore hingga menjelang malam, M Rifki tidak mau berjauhan dengan saya. Bahkan, sampai tidur pun tidak mau berjauhan. Saya bersama M Rifki tidak berjauhan sampai pukul 10.00 WIB, kemarin (10/1). Memang tidak seperti biasanya ia bersikap seperti itu,” aku Heri yang merupakan ayah kandung korban saat disambangi rumah duka, kemarin (10/1).

Diakuinya, Rifki memang dikenal anak yang hiperaktif. “Rifki ini merupakan anak ke dua saya. Ia memang anaknya hiperaktif. Namun karena ini musibah, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” jelasnya.

Saat kejadian, ia mengaku sedang tertidur lelap di rumahnya. Namun, saat terbangun sekitar pukul 15.00 WIB, ia langsung menanyakan Rifki kepada istrinya. “Saat itu, saya tanya ke istri kemana Rifki, kenapa udah mau hujan dan sore seperti ini belum kunjung pulang. Istri saya menjawab lagi bermain di lokasi proyek sambil liat beko,” paparnya.

Saat ia keluar rumah dan berniat menjemput Rifki, ia dikagetkan dengan datangnya teman-teman korban dan memberikan kabar terkait anaknya yang tertimbun material longsor. “Setelah itu, saya langsung datang ke lokasi proyek.

1 2 3Laman berikutnya
Tags

Tinggalkan Balasan