Catatan Hazairin Sitepu

Biarkan Jadi Monumen, Bangun Kota Baru

Secara resiko, lebih dari 60 persen wilayah Palu memiliki potensi terjadinya likuifaksi. Hampir 70 persennya berpotensi sangat tinggi, kira-kira 25 persen berpotensi tinggi dan sisanya kira-kira 5 persen berpotensi rendah atau sangat rendah.

Tiga hal penting yang bisa dilakukan oleh pemerintah prihal malapetaka di Palu dan Sigi itu. Pertama, daerah-daerah seperti Petobo, Balaroa dan Jono Oge, birkan saja begitu. Tidak perlu dibangun. Biarkan ia menjadi monumen sejarah yang besar.

Buatlah dinding besar di situ yang memuat semua nama pendudukknya yang tewas. Buatkan peta wilayah itu lengkap dengan simbol-simbol penting di dalamnya. Tapi buatkan juga tempat yang memadai untuk siapa saja yang ingin menaruh karangan bunga di situ. Selain fakta sejarah, ia kelak menjadi daerah wisata yang sangat penting. Dan setiap 28 September orang akan mengenangnya.

Kedua, wilayah kota Palu tidak perlu ada izin pembangunan rumah lagi ataupun gedung. Hotel atau lainnya. Biarkan saja seperti saat ini. Buat saja kota Palu baru di dataran tinggi yang membentang dari bagian atas Palu Selatan sampai wilayah Sigi.

Saya sudah melintasi dataran tinggi itu Jumat lalu. Sangat indah. Kita dapat menyaksikan keseluruhan Teluk Palu dari situ. Saat ini sebagian wilayah itu dijadikan tempat pengungsi. Lokasi dataran tinggi itu agak jauh dari sesar Palu Koro, juga sesar Matano.

Ketiga, semua bangunan baru di wilayah Palu, Sigi dan Donggala, salah satu persyaratan izinnya, tiang pondasinya harus jauh di bawah lapisan lempung. Atau jauh di bawah kedalaman 10,9 meter. Jangan menaruh pondasi di atas lapisan lempung, atau lapisan lanau. Apa lagi lapisan pasir.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Tags

Tinggalkan Balasan