Catatan Hazairin Sitepu

Hanya Terdiam, Meneteskan Air Mata

Saya datang ke situ Jumat pagi pekan lalu. Oleh teman-teman relawan, saya diminta membawa masker. Benar saja, Petobo sudah mengeluarkan bau tidak sedap. Kemungkinan berasal dari jenazah-jenazah yang terkubur akibat digulung gelombang lumpur. Juga bangkai hewan-hewan peliharaan yang tewas dihantam bencana 28 September petang itu.

Petobo. Kelurahan yang padat penduduk itu telah musnah. Wilayah 260 hektar lerbih itu tinggal sepenggal cerita. Tidak ada cerita seperti Hamka Daude di Jono Oge. Atau Alhizam di Balaroa. Semua yang harus bercerita tentang bagaimana bencana besar itu terjadi telah menemui ajalnya. Sebagian mereka lenyap ditelan bumi. Mereka pergi membawa cerita itu.

Dai arah Utara, dari tempat yang tinggi. Saya menyaksikan betapa Petobo telah musnah. Banyak orang datang ke situ. Dari kota Palu sendiri. Dari kota lain di Indonesia. Bahkan dari luar negeri. Ada beberapa dari Korea Selatan. Hanya bisa berdiri terdiam. Meneteskan air mata.

Peristiwa ini tidak bisa kita fahami hanya dengan pendekatan keilmuan. Pendekatan akademik. Tetapi kita harus mendekati peristiwa ini dari juga pendekatan ilahiyah. “Ini adalah kekuasaan Allah,” kata Yus Fitriyadi. Ketua STKIP Bogor dua periode itu memang saya ajak sebagai relawan Bogor dalam kerja kemanusiaan di Palu, Sigi dan Donggala.

 

(Hazairin Sitepu)

Laman sebelumnya 1 2
Tags

Tinggalkan Balasan