Catatan Hazairin Sitepu

Alhamdulillah Dia Masih Hidup

RADARSUKABUMI.com – Hamka Daude berada di atas rumahnya ketika suara tarhim berkumandang di menara masjid. Ia sedang bersiap-siap masuk ke kamar mandi setelah seharian bekerja di bengkelnya. Tiba-tiba saja rumahnya bergoyang dengan kencangnya. Gempa. Gempa besar.

Dalam hitungan detik, bagian bawah rumahnya terhisap ke dalam tanah. Tidak jelas, kata dia, entah rumah yang terhisap atau lumpur yang naik. Suara gemuruh terdengar gaduh dari seluruh desa. Pada saat yang sama datang gelombang lumpur dari arah Timur.

Semula lumpur muncul terdaduk-aduk dari dalam tanah kemudian menimbulkan gelombang. Sangat cepat. Dalan hitungan detik, rumahnya yang masih tersisa setengah itu pun tergulung gelombang lumpur besar itu.

“Laailaaha illallaah.” Hamka pun tergulung bersama Fatma, isterinya, yang sore itu memang bersamanya berada dalam rumah. Suami-isteri itu pun hilang ditelan lumpur. Puluhana rumah penduduk yang memadati kiri-kanan jalan alternatif Palu-Poso itu pun hilang. Setengah lebih Desa Jono Oge hilang. Pohon-pohon dan bangunan lain hilang.

Ketika gelombang lumpur berhenti, Hamka Daude ditemukan kira-kira 100 meter dari lokasi rumahnya. Dalam keadaan penuh lumpur. Tidak berbusana. Juga tidak bernafas. Isteriya ditemukan hidup, meski dalam keadaan tidak berdaya. Juga kira-kira 100 meter dari lokasi rumahnya, tetapi terpisah agak jauh dari suaminya.

Banyak mayat. Laki-laki, perempuan. Teronggok di atas lumpur yang mulai mengering. Nyangkut maupun terhimpit di reruntuhan bangunan. Atau pun setengah terkubur lumpur. Oleh regu penolong, mayat-mayat itu dimasukkan ke kantong jenazah. Lalu dibawa ke rumah sakit. Termasuk Hamka Daude.

Sebelum dikuburkan secara massal, mayat dari berbagai tempat di Palu dan Sigi itu dibaringkan berjejer. Siapa tau ada keluarganya yang datang nengambil. Malam itu memang puluhan orang datang. Mereka dipersilakan mengenal satu demi satu jenazah yang ada dalam kantong itu. Kantong pun dibuka bagian atasnya.

Bagian kepala dan muka jenazah rata-rata penuh lumpur yang sudah mengering. Untuk mengenali harus nenggosok-gosok lumpurnya biar mukanya keliatan. Banyak keluarga melakukan itu satu demi satu jenazah. Begitu muka Hamka digosok, tiba-tiba matanya terbuka. Kantong jenazah yang membungkusnya pun bergerak-gerak. Bergerak semakin kencang. Sontak orang-orang di situ berteriak. “Alhamdulillaah. “

Hamka Daude ternyata masih hidup setelah kurang-lebih tiga jam berada dalam kantong jenazah. “Saya waktu itu penuh lumpur. Telanjang. Kaget, ternyata sudah di rumah sakit,” cerita pria 43 tahun yang sampai saat ini belum dikaruniai anak itu.

Saya menemui Hamka di Jono Oge Jumat siang pekan lalu. Kakinya masih pincang. Ia menceritakan proses bencana yang menimpa Jono Oge. “Saya sempat ingin menyelematkan diri dengan cara memegang kabel. Tetapi setelah itu saya sudah tidak tau apa-apa,” cerita Hamka. “Saya melihat suasana seperti fajar. Seperti waktu subuh. Padahal ini malam,” ia melanjutkan.Kejadiannya dalam hitungan detik. **

Tags

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close