RS Betha Medika

Dislipidemia

Alhamdulillah hari raya Idul Adha menghampiri kaum muslimin. Pada hari raya ini, kita disuguhkan dengan berbagai olahan lezat serba daging. seperti daging sapi dan kambing. adapun menu olahannya yaitu sate kambing, tengkleng, gulai, rendang dan lainnya.

Tentunya tidak bisa lepas dari bahan masakan santan yang banyak mengandung lemak. Tidak jarang setelah Idul Adha akan diserbu dengan keluhan sakit kepala, pandangan kabur atau penglihatan ganda, nyeri serta kram pada tangan, kaki dan jemari.

Penyakit-penyakit yang sering kambuh setelah makan kambing seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, stroke, jantung dan maag.

Daging kambing yang dikonsumsi memang bisa menaikkan tekanan darah, apalagi jika seseorang sudah memiliki riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi) sebelumnya.

Naiknya tekanan darah ini disebabkan oleh kalori atau energi yang dihasilkan dari daging kambing yang dikonsumsi tersebut sangat tinggi. Kalori yang masuk ini kemudian akan diubah menjadi lemak tubuh.

Dislipidemia adalah kelainan metabolism lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, peningkatan Low Density Lipoproteinemia (LDL), peningkatan trigliseridemia dan penurunan High Density Lipoproteinemia (HDL).

Secara epidemiologi, dislipidemia lebih banyak dialami oleh pria dibandingkan wanita, ini disebabkan adanya hormon estrogen sebagai faktor protektif pada kaum wanita. Akan tetapi, resiko tersebut akan menjadi sama saat wanita memasuki masa menopause.

Sementara dari segi usia, dislipidemia kini tak lagi hanya dialami oleh usia tua. Penderita dislipidemia seringkali tidak mengeluhkan gejala klinis apapun,

Pencegahan terhadap dislipidemia sangat penting dilakukan untuk menghindari terjadinya berbagai komplikasi di kemudian hari dan menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler, salah satunya adalah : melakukan pola makan sehat, menjaga berat badan, melakukan aktivitas fisik teratur.

Penatalaksanaan dislipidemia lebih ditekankan pada perubahan gaya hidup, misalnya mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol, mengkonsumsi makanan yang dapat membantu menurunkan LDL, penurunan berat badan dan aktivitas fisik teratur.

Apabila setelah dilakukan perubahan gaya hidup namun target LDL belum tercapai maka dipertimbangkan pemberian obat penurun kolesterol, namun perubahan gaya hidup harus tetap dilanjutkan.

Komplikasi dislipidemia : sindroma coroner akut, stroke, penyakit jantung iskemik, penyakit arteri perifer dan disfungsi ereksi. Semoga bermanfaat, dan Salam semakin sehat dari kami, keluarga besar RS Betha Medika.(*)

 

Oleh : dr. Lusiana
Kepala Bidang Penunjang Medis

loading...
loading...
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close