Bencana Alam KabKABUPATEN SUKABUMI

Sukabumi Diancam Tsunami 41,5 meter

JAKARTA— Pada Selasa (3/4) Peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko memprediksi ada potensi tsunami setinggi 57 meter di Kabupaten Pandeglang, Banten. Selain di Pandeglang, tsunami itu diprediksi akan mencapai beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Di antaranya Sukabumi dengan ketinggian 41,5 meter, Ciamis 39,8 meter, Lebak 39,4 meter, Cianjur 3,2 meter, Garut 30,1 meter, Tasikmalaya 28,2 meter, Serang-Banten 5,5 meter, Tangerang 4,2 meter, Jakarta Utara 2,4 meter, dan Bekasi Utara 2,8 meter.

Berita Terkait : Isu Tsunami Pantai Selatan, BMKG Imbau Jangan Panik

Tsunami itu bisa terjadi karena di Jawa Barat tengah diprediksi adanya gempa megathrust di daerah subduksi di selatan Jawa dan Selat Sunda. Salah satu contoh dampak gempa megathrust ini adalah adanya gempa di Banten pada akhir Januari 2018. Apabila kekuatan gempa mencapai 9 skala Richter di kedalaman laut yang dangkal, tsunami besar akan terjadi.

“Di Jawa Barat itu sumber gempa besar. Di situ bisa dikatakan di selatan bisa mencapai 8,8 Magnitudo atau 9 sehingga kaidah umum kalau di atas 7 Magnitudo dan terjadi di lautan dangkal sumbernya, maka potensi tsunami besar akan terjadi di daerah sana (Pandeglang),” kata Widjo di gedung BMKG, Jalan Angkasa Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, dalam siaran pressnya.

Angka 57 meter tersebut muncul dari salah satu skenario pada simulasi yang dilakukan secara ilmiah oleh Widjo. Pemodelan dalam simulasi ini dilakukan dengan menggunakan data yang bersumber dari kajian ilmiah. Namun dirinya memprediksi tsunami ini akan terjadi lebih besar dibandingkan tsunami di Aceh pada 2004. Sebab, kedalaman laut di Jawa bagian barat lebih dalam dibandingkan Aceh.
Di tempat yang sama, Sekretaris Utama BMKG Untung Merdijanto mengatakan belum bisa memastikan kapan tsunami ini terjadi. Namun dia berharap seluruh pejabat pemerintah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dapat memuat mitigasi bencana untuk antisipasi.

“Kapan? Tentu kami tidak bisa memastikan karena belum ada alat yang bisa mendeteksi. Tetapi tentunya kami selalu mengadakan kajian ilmiah untuk melihat potensi yang ada. Tentu yang paling penting adalah, kita telah mengetahui secara umum, meskipun belum detail kajiannya. Intinya, migitasi perlu kita siapkan sejak awal,” ucap dia.

Sementara itu Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly, melalui sambungan teleconference di Jakarta, Kamis (5/4). menyebut potensi tsunami di Pandeglang, Banten, masih perlu dikaji. Hal itu menyusul hasil penelitian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Pada kasus hasil kajian potensi tsunami di Pandeglang, Banten, peneliti BPPT sebenarnya tidak melakukan prediksi, tapi mencoba mengungkap potensi yang masih perlu dikaji lebih lanjut berbasis data ilmiah yang memadai,” ucap Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly, melalui sambungan teleconference di Jakarta, Kamis (5/4). “Peneliti tersebut tidak menyebutkan kapan akan terjadinya. Masyarakat dihimbau agar tetap tenang,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, yang dilakukan BPPT merupakan bentuk penelitian awal dan masih menggunakan modeling. Artinya masih perlu divalidasi. “Itu modeling yang perlu divalidasi. Dan perlu digunakan data-data yang valid,” jelasnya.

Dwi pun meminta masyarakat lebih arif dalam memahami informasi soal kegempaan dan tsunami. Terutama apa bila informasi itu belum menjadi pegangan resmi sebagai acuan dalam upaya mitigasi bencana. “Sekali lagi masyarakat jika mendapat info, mohon dicek validasinya,” pungkasnya. (put/die/JPC)

Tags

Tinggalkan Balasan